Kriteria Ajaran Buddha

Banyak aliran yang menyatakan dirinya sebagai salah satu aliran Agama Buddha. Tetapi kalau kita teliti, ternyata perbedaan antara satu aliran dan aliran yang lain sangat besar. Bahkan, ada yang mengajarkan hal yang bertentangan dengan yang diajarkan aliran lain. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kriteria apa yang bisa kita jadikan pedoman untuk menentukan mana ajaran yang benar dan yang salah?

Pangeran Sidhartta dilahirkan pada abad ke 6 S.M. Sejak mencapai Penerangan Agung pada usia 35 tahun sampai wafat pada usia 80 tahun, Beliau mengisi hidupnya dengan memberi khotbah dan mengajar. Selama 45 tahun Buddha berbicara kepada semua lapisan masyarakat: raja dan putri, brahmin, petani, pengemis, kaum terpelajar dan rakyat biasa.

Ajaran yang diberikan disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pengertian, kemampuan pikiran dan kematangan batin para pendengarnya. Karena itu sangatlah wajar jika terjadi banyak perbedaan. Karena satu orang dengan yang lain mendengar ajaran yang berbeda. Pemahamannyapun berbeda. Meskipun, semua ajaran itu mengalir menuju tempat yang sama.

Buddha mendirikan persamuan para Bhikkhu dan Bhikkhuni, dan menetapkan peraturan disiplin yang disebut VINAYA untuk membimbing persamuan tersebut. Ajaran-ajaran Buddha sendiri disebut DHAMMA. Dharma berasal dari percakapan-percakapan dan khotbah-khotbah yang diberikan kepada para bhikkhu, bhikkhuni, dan masyarakat awam.

Tiga bulan setelah Buddha parinirvana, para murid dekatnya mengadakan pertemuan di Rajagaha. Y.A.Maha Kasyapa, bhikkhu tertua yang paling dihormati, memimpin pertemuan tersebut. Dua tokoh penting yang ahli dalam dua bidang yang berbeda : DHAMMA dan VINAYA juga hadir. Y.A.Ananda, teman dan pengikut terdekat Buddha selama 25 tahun, dengan bakat ingatan yang luar biasa, dapat mengucapkan kembali apa yang telah dikhotbahkan oleh Buddha. Seorang lagi adalah Y.A.Upali, yang mengingat semua peraturan Vinaya.

Sebelum Buddha mencapai parinirvana, Beliau memberitahu Y.A.Ananda bahwa jika SANGHA (persamuan bhikkhu) menghendaki, beberapa peraturan yang kurang penting dapat diubah. Tetapi pada waktu itu Y.A.Ananda diliputi oleh kesedihan yang sangat menekan karena Buddha hampir wafat, sehingga tidak terpikir untuk menanyakan kepada Sang Guru peraturan mana yang termasuk dalam peraturan yang kurang penting itu.

Karena tidak tercapai kesepakatan mengenai apa yang disebut sebagai peraturan yang kurang penting, akhirnya Y.A.Maha Kasyapa menetapkan bahwa tidak satupun dari peraturan disiplin yang dibuat oleh Buddha boleh diubah dan tidak ada peraturan baru yang boleh dibuat. Tiada alasan yang hakiki yang diberikan. Namun Y.A.Maha Kasyapa pernah mengatakan satu hal: “Jika kita merubah peraturan ini, orang akan berkata bahwa murid-murid Yang Ariya Gotama merubah peraturan bahkan sebelum api perabuan jenazahnya berhenti menyala.”

Memang, tiga bulan setelah Buddha parinirvana tidak dirasa perlu untuk merubah peraturan, sebab perubahan-perubahan politik, ekonomi atau sosial dalam masa yang singkat itu hampir tidak ada. Tetapi 100 tahun berikutnya, saat diadakan pertemuan yang kedua, beberapa bhikkhu merasa perlu untuk mengadakan perubahan atas peraturan yang kurang penting tersebut.

Para bhikkhu yang ortodoks mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang perlu diadakan, sedangkan yang lainya mendesak adanya perubahan beberapa peraturan. Akhirnya kelompok bhikkhu yang ingin mengadakan perubahan meninggalkan persamuan dan membentuk MAHASANGHIKA – Persamuan Agung -. Sekalipun disebut Mahasanghika, himpunan ini tidak dikenal sebagai Mahayana.

Pada pertemuan kedua ini hanya hal-hal yang berhubungan dengan Vinaya saja yang dibahas dan tidak dilaporkan adanya perdebatan mengenai Dhamma.

Pada abad ke-3 S.M. selama pemerintahan Raja Asoka, pertemuan ketiga dilangsungkan untuk membicarakan perbedaan-perbedaan pendapat diantara para bhikkhu dari berbagai sekte. Dalam pertemuan ini perbedaan-perbedaan itu tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga berkenaan dengan Dhamma. Ajaran buddha kemudian berkembang dan terbagi menjadi banyak sekte.

Dengan perjalanan waktu yang panjang, variasi antar satu sekte dengan sekte yang lain semakin luas. Sekte-sekte dalam Agama Buddha ibarat agama-agama kecil dalam satu agama besar. Dewasa ini banyak yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Orang bertanya-tanya, Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran Buddhisme? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat? Apakah ajaran ini merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha? Dan sebagainya.

Timbullah kebutuhan untuk membuat pokok-pokok pemersatu antara 2 aliran besar Theravada dan Mahayana. Perlu ada definisi, ajaran seperti apa yang bisa disebut sebagai ajaran Buddha yang benar. Definisi ini mempersatukan berbagai aliran Buddhis sekaligus menjaga kemurnian ajaran Buddha. Supaya orang tidak salah mengerti tentang apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Buddha. Biarpun, tentu saja, pedoman itu hanya mencakup garis besar ajaran saja.

Ada banyak versi pokok-pokok pemersatu yang pernah dilontarkan. Tetapi dari semuanya itu, bisa dirangkum bahwa semua aliran Agama Buddha mengajarkan:
1. Menerima Sakyamuni Buddha sebagai Guru.
2. Empat Kesunyataan Mulia.
3. Jalan Mulia Beruas Delapan.
4. Pratitya Samutpadda atau sebab musabab yang saling bergantungan.
5. Menolak gagasan adanya Dewa tertinggi yang menciptakan dan menguasai dunia.
6. Menerima Anitya, Dukkha dan Anatman dan Sila, Samadhi dan Prajna.
Aliran Theravada mengajarkan ke-enam pokok ajaran tersebut. Aliran Mahayana menambahkan penekanan pada ajaran tentang bodhicitta. Aliran Tantrayana atau Tibetan mengajarkan ke-enam pokok ajaran tersebut ditambah bodhicitta dan meditasi tantra.

Rambu-rambu ini sangat berguna. Jika tidak ada rambu-rambu, dengan mudahnya orang tersesat saat mempelajari ajaran Buddha. Akan ada banyak orang yang menyatakan bahwa ia mengajarkan ajaran Buddha padahal yang ia ajarkan bertentangan dengan ajaran Buddha yang sesungguhnya. Bukan tidak mungkin seorang yang berjubah bhikkhu/bhiksu memberikan ajaran yang bertentangan dengan kitab suci karena ketidaktahuannya atau karena mempunyai tujuan yang tidak baik. Jika ini terjadi, masyarakat akan memandang rendah Agama Buddha.

Akan tetapi, saat Y.A. Anna Kondanna mendapatkan mata dharma, memahami sepenuhnya ajaran Buddha, beliau tidak mendengar banyak teori dan doktrin-doktrin yang dipelajari oleh banyak umat buddha. Bhante Anna Kondanna hanya mendengar inti ajaran yang menjadi fondasi seluruh ajaran Buddha yaitu tentang penderitaan atau dukkha. Dengan pemahaman tentang dukkha, bhante Anna Kondanna memahami seluruh pokok utama ajaran Buddha.

Ini membuktikan bahwa meskipun doktrin-doktrin atau pokok-pokok ajaran itu cukup penting, tetapi bukan doktrin yang bisa membawa seseorang pada pemahaman dharma yang sejati. Doktrin atau pokok-pokok ajaran hanyalah alat bantu. Penembusan dharma hanya bisa dicapai dengan perkembangan batin. Kemampuan untuk membebaskan diri dari kemelekatan. Kemampuan untuk melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Kemampuan untuk melepas.

Sebelum parinibbana, Buddha pernah berkata: “Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: `Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.` Tetapi, Ananda, hendaknya tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku pergi.” (Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)

Dengan demikian setelah Buddha parinibbana, tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.

Jauh sebelum Parinibbana, Buddha juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Tetapi Buddha mempunyai penekanan yang berbeda ketika memberikan pedoman untuk membedakan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.

Dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53), Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:

Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti hal-hal ini:
1. Menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu.
2. Menuju pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan.
3. Menuju pada pengumpulan, bukan pada pelepasan.
4. Menuju pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan.
5. Menuju pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan.
6. Menuju pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian.
7. Menuju pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat.
8. Menuju pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan`
- tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti:
`Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.`

Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti hal-hal ini:
1. Menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu.
2. Menuju pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan.
3. Menuju pada pelepasan, bukan pada pengumpulan.
4. Menuju pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan.
5. Menuju pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan.
6. Menuju pada kesendirian, bukan pada suka berkumpul.
7. Menuju pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan.
8. Menuju pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah
- tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti:
`Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.`

Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80), Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :

Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` – dari ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: Ini bukan Dhamma; ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.`

Tetapi Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` – dari hal-hal semacam itu engkau bisa merasa yakin: Inilah Dhamma; inilah Vinaya; inilah Ajaran Sang Guru.`

Dari petunjuk Buddha berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Gotami Sutta maupun SatthuSasana Sutta kita bisa menganalisa, meneliti berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang menyimpang dari ajaran Buddha, mana yang tidak. Semoga kebingungan kita akan pembedaan antara mana yang merupakan ajaran Sang Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita ketahui dan pahami.

Ditulis oleh: Robby Candra

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peramal

Di masa lalu hiduplah seorang peramal yang sangat terkenal karena kepandaiannya membaca nasib orang. Dia mempunyai banyak pengikut dan penggemar. Muridnya pun banyak.

Suatu ketika ia memamerkan keahlian ilmu meramalnya di hadapan para pengikut dan para muridnya. Ia kumpulkan murid-muridnya. Ia menunjukkan kehebatan ilmu meramal yang dikuasainya.

Setelah meramal nasib beberapa orang yang hadir, seorang pengikutnya mengatakan, “Guru, bisakah Anda meramalkan nasib Anda sendiri?”.

Ternyata, guru itu belum pernah meramal nasibnya sendiri. Karena merasa tertantang, maka dengan ilmunya, ia meramalkan nasibnya sendiri dihadapan para pengikut dan para muridnya.

Sungguh mengejutkan, hasil dari ramalan itu ternyata menunjukkan bahwa ia akan meninggal hari itu juga, setelah matahari tebenam. Para pengikut dan muridnya gempar. Ia pun sangat bersedih, tetapi segera ia bisa menerima hal itu. Ia segera mengutus para murid untuk mempersiapkan upacara kematian dirinya malam itu.

Sore harinya, ia menunggu-nunggu saat kematiannya. Sampai malam hari, tidak terjadi apa-apa. Orang-orang sudah berkumpul untuk menunggui saat-saat terakhirnya. Guru itu mulai diliputi kebingungan. Ia mulai berpikir, “apakah ilmu meramalku meleset?”

Tepat tengah malam, guru itu diliputi perasaan malu, karena ilmu meramalnya yang selama ini di banggakan ternyata meleset. Dengan rasa malu ia membenturkan kepalanya di dinding dan meninggal dunia.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kesepian di tengah keramaian

Di dunia yang penuh kesibukan dan hingar bingar, ternyata banyak orang merasakan kesepian. Dalam keramaian banyak orang tidak mempunyai waktu untuk berteman. Kesepian sudah menjadi sebuah epidemi. Penyakit yang merajalela di masyarakan modern.

Ada survei yang mengatakan bahwa sepertiga masyarakat modern menderita perasaan kesepian yang akut. Bahkan sebagian berdampak pada ksehatan fisik. Laki2 yang terisolasi, 25% lebih banyak menginginkan kematian dari pada yang punya kekasih atau istri. Bagi wanita 33%.

Mengapa rasa kesepian itu begitu menyakitkan? Hal yang utama adalah kegelisahan tentang eksistensi diri kita. Dalam kesepian, semua pengetahuan, identitas, personality, karakter, EGO menjadi tidak terungkap. Semakin anda menyendiri, semakin anda melihat ada sesuatau yang salah dalam diri anda.Semua yang anda ketahui seumur hidup anda, semua bisa jadi tampak salah. Ini menjadi hal yang menakutkan.

Kolamteratai, kelompok2 social, asosiasi, partai politik, bahkan Buddha Bar; menjadi eksis karena adanya kebutuhan seseorang untuk bermasyarakat. Sehingga mereka punya teman dan tidak sendiri.

Secara umum, kita tidak suka merasa sendiri. Jika kita sedang sendiri, ktia melakukan berbagai aktivitas. Meditasi, nonton TV, membaca, melamun, membuka Kolam Teratai, Chating.

Hal ini sebenarnya cukup aneh. Karena ternyata kita tidak suka menghadapi diri kita apa adanya. Jika kita mengubah rasa kesepian kita menjadi kesendirian, sebenarnya kita bisa mengungkap banyak hal.

Ketika anda sendiri, segala gejolak keinginan yang terpendam akan muncul. Semua rasa ketidaksukaan akan muncul. Anda akan menghadapi diri anda yang sebenarnya.

Saat kita berada dalam kerumunan orang, kita seakan-akan melihat identitas diri kita. Tetapi sebenarnya yang kita lihat adalah identitas palsu. Mengapa demikian? Karena dalam banyak orang kita melihat perbedaan diri kita dengan yang lain. Misalnya, kita lebih muda, saya sarjana IT, saya penulis, saya karyawan, saya tinggi, saya Robby.

Kita mendapat label diri kita. Tetapi sebenarnya label ini tidak ada artinya. Kita tinggi karena orang lain pendek. Kalau kita berada di lingkungan orang yang lebih tinggi, kita menjadi pendek. Saya Sarjana IT karena orang lain bukan. Saya penulis, karena orang lain punya profesi berbeda. Saya Robby karena orang lain punya nama lain.

Jika kita sendiri, tidak ada orang lain yang di jadikan perbandingan. Tidak ada standard yang digunakan untuk membandingkan diri kita. Otomatis semua label ini lenyap. Semua identitas palsu menghilang.

Seluruh kehidupan kita, status kita, KTP, SIM, Passport, sejarah, reputasi, pekerjaan, pencapaian, kebanggaan, tidak ada gunanya dalam kesendirian. Lalu apakah semua lenyap? Tidak !

Saat itu kita akan melihat diri kita yang sesungguhnya!

Pada awalnya kita akan melihat harapan2 dan keinginan kita. Kita melihat kebencian yang ada dalam diri kita. Kita melihat arah yang ingin kita tuju dalam hidup ini.

Rasakanlah kesendirian ini. Jangan takut. Jadikan rasa kesepian menjadi kesendirian. Terimalah apapun yang muncul dari dalam diri anda. Buang semua label palsu. Biarlah kesendirian ini menjadi cermin untuk melihat siapakah diri anda sebenarnya.

Suatu hari, jika Anda sudah siap, saat anda sudah bisa mengenal diri Anda lebih dalam, Anda akan melangkah dengan penuh keyakinan dalam hidup ini. Karena Anda tahu pasti tentang diri anda dan tujuan anda. Anda akan mencintai kehidupan ini dan menerima hidup sebagai sesuatu yang sangat berharga.

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Interview dengan Bhante Pannya

Biodata

Nama : Sri Pannyavaro Mahathera
Nama Lahir : Husodo (Ong Tik Tjong)
Tempat Lahir : Blora, Jawa Tengah, Indonesia
Tanggal Lahir : 22 Juli 1954
Alamat tinggal : Vihara Mendut
Depan Candi Mendut, Desa Mendut, Kota Mungkid,
Kotakpos 111, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia 56501
Telp 0293 788236, Fax 0293 788404
Pendidikan Akhir : Fakultas Psikologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1972-1975)

Mengenal Ajaran Buddha

Saya lahir di Blora, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kakek dari ibu saya adalah seorang kapiten. Oleh karena seorang kapiten adalah sesepuh masyarakat, maka beliau dianggap sesepuh di klenteng. Waktu itu tugas kapiten mengurus berbagai macam hal, termasuk upacara agama. Tidak hanya Lo Cu, kalau kapiten datang sembahyang di klenteng, tambur juga harus di pukul. Setelah jaman Belanda, meskipun sudah tidak menjadi kapiten, masyarakat tetap menganggap beliau sebagai sesepuh. Karena pengaruh dari kakek, ibu saya tidak dekat dengan agama Kristen, meskipun bersekolah di sekolah Belanda. Ayah saya juga tidak pernah dekat dengan agama Kristen. Sehingga anak-anaknya menjadi umat klenteng, meskipun tidak mengerti apa yang diajarkan oleh agama. Dunia saya adalah dunia sembahyang, baik di klenteng ataupun di rumah. Orangtua saya menjadi pengurus klenteng ketika saya akhir SMP atau awal SMA.

Saya mengenal ajaran Agama Buddha dari guru sejarah SMP saya, Bapak Suprapto, ketika saya duduk di kelas 1. Memang sebelumnya saya sudah mendengar adanya ajaran Buddha tetapi tidak mengetahui apa yang diajarkan. Pak Suprapto adalah orang yang pertama kali menjelaskan apa yang diajarkan oleh Agama Buddha, tentang Empat Kesunyataan Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan sebagainya. Sejak itu saya tertarik dan merasa cocok dengan ajaran Agama Buddha karena merasa ajaran Agama Buddha sangat logis dan jelas sekali inti ajarannya.

Di tahun 1965, ketika saya kelas satu SMP, terjadi G 30 S. Waktu itu terjadi perubahan kurikulum sehingga saya duduk di SMP kelas satu selama satu setengah tahun. Semua orang harus menentukan agama apa yang dianut. Sebelumnya agama tidak menjadi keharusan. Lalu saya mulai ikut kebaktian pada hari Minggu jam empat sore di Klenteng Hok Tik Bio Blora. Klenteng itu dipakai untuk kebaktian Agama Buddha. Di sana terdapat altar Sang Buddha.

Pada tahun 1967, beberapa bulan setelah mengikuti kebaktian , Bhante Narada Mahathera datang ke Blora. Beliau adalah bhikkhu pertama yang saya lihat dalam kehidupan saya. Dari Beliaulah saya menjadi upasaka dengan nama Tejavanto. Pada awal suatu ceramah, beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan Dhamma. Kepada yang bisa menjawab—terutama generasi muda dan anak-anak—beliau memberi hadiah, antara lain kartupos Buddhis atau buku-buku Dhamma kecil.

Pada suatu kesempatan, beliau bertanya, ”Guru Agung Buddha Gotama sudah lama parinibbana, sudah tidak bersama kita lagi. Apakah Anda masih bisa melihat Beliau?” Saya ingat suatu kalimat yang artinya adalah: kalau Anda melihat Dhamma, Anda akan melihat Buddha. Itulah jawaban saya atas pertanyaan Bhante Narada Mahathera. Bhante Narada membenarkan jawaban itu, tetapi karena hadiahnya habis, sebagai gantinya beliau memberikan semacam harapan kepada saya dengan mengatakan, “Benar sekali jawabanmu. Semoga engkau menjadi bhikkhu yang baik untuk bangsamu.” Saya ingat sekali kalimat yang diterjemahkan oleh penterjemahnya itu, sampai hari ini. Beliau memberi inspirasi kepada saya untuk menjadi bhikkhu. Harapan Bhante Narada yang bagi saya dan masyarakat yang mendengarkan ceramah beliau pada waktu itu dianggap tidak lazim, terpatri pada pikiran saya. Hanya keinginan untuk menjadi bhikkhu belum muncul. Waktu itu saya masih duduk di SMP kelas 2.

Saya tekun mengikuti kebaktian sore yang dipimpin oleh Upasaka Pandita Muda Gunapriya. Nama Tionghoanya adalah Ong Seng Hiap. Dia adalah salah seorang tokoh awal, tokoh pertama yang mengenalkan Agama Buddha di Blora. Ada seorang lagi yang bernama Tan Bo Siu, nama buddhisnya Upasaka Bodhiphala Mulyono. Saya lebih banyak berdiskusi dengan om Bo Siu, meskipun juga dengan Upasaka Pandita Muda Gunapriya, Ong Seng Hiap. Om Bo Siu mempunyai toko bahan makanan. Setiap saya pulang sekolah dan tidak ada pelajaran tambahan atau les sore, saya selalu berkunjung ke tokonya. Selama tidak sibuk, sambil menunggu pembeli, saya berdiskusi tentang dhamma dan tentang aktivitas buddhis dengan om Bo Siu. Kemudian belakangan muncul lagi Upasaka Pandita Dharmapriya, seorang pensiunan angkatan darat, yang sempat menjadi anggota DPRD di buddhis. Dia mengikuti aktivitas di Gabungan Tridharma Indonesia di Blora. Waktu saya aktif di Blora, sudah tidak ada lagi Perbudi maupun PUUI di Blora.

Setelah banyak berdiskusi dengan om Bo Siu, bergaul dengan om Seng Hiap, dan dengan Romo Dharmapriya, kemudian saya ikut mengasuh sekolah minggu pada Minggu Pagi. Lalu kedekatan dan kecintaan saya pada ajaran agama Buddha bertambah, ditambah juga pengertian saya juga bertambah, kurang lebih 3 tahun kemudian timbullah keinginan untuk menjadi bhikkhu.

Keinginan menjadi bhikkhu

Saya melihat bermacam-macam kebahagiaan yang bisa dirasakan banyak orang. Tapi toh kebahagiaan itu akhirnya selesai, tidak kekal, berubah. Pikiran seperti itu muncul dalam pemikiran saya, dan itulah yang mendorong timbulnya keinginan untuk menjadi bhikkhu.

Saya menyampaikan keinginan itu kepada orangtua. Namun, orangtua sangat berkeberatan. Apalagi saya tidak mempunyai saudara laki-laki, baik kakak maupun adik. Saya anak pertama laki-laki dan tiga adik saya perempuan. Ini membuat orangtua semakin berat untuk mengijinkan saya menjadi bhikkhu. Orangtua menganjurkan dan meminta dengan keras supaya saya melanjutkan studi terlebih dahulu, selesai SMA dan sampai ke perguruan tinggi semaksimal mungkin, baru nanti dipikirkan kembali keinginan untuk menjadi bhikhu tersebut.

Sebagai seorang anak muda yang mempunyai keinginan—dan keinginan itu berkembang—ditambah lagi dengan harapan Bhante Narada yang terpatri, memperkuat timbulnya keinginan menjadi bhikkhu. Permintaan orangtua untuk studi dulu sampai maksimal, terasa sebagai penghalang. Akan tetapi, setiap tahun saya menyampaikan lagi keinginan itu, setiap tahun pula orangtua juga menyampaikan permintaannya. Sehingga seperti tarik-menarik antara orangtua dengan saya. Banyak nasihat yang diberikan kepada saya dari berbagai pihak untuk tidak tergesa-gesa menjadi bhikkhu. Nasihat bahwa melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan umum adalah sangat berguna, agar kelak kemudian bisa memahami Dhamma dan mengajarkan Dhamma kepada masyarakat dengan baik. Namun, banyak juga pihak yang memberikan nasihat kepada orangtua saya, untuk memahami keinginan sang anak, karena keinginan untuk menjadi bhikkhu juga keinginan yang luhur. Bahagia di dalam kehidupan spiritual, tidak kalah bila dibandingkan dengan kebahagiaan sukses di kehidupan duniawi.

Pada waktu kuliah di fakultas psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, saya banyak bertemu dengan para bhikkhu. Saya membantu para bhikkhu mengetik terjemahan naskah-naskah Dhamma dari bahasa Inggris. Membantu para bhikkhu ketika memberikan latihan meditasi. Mengikuti para bhikkhu ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Tengah untuk membabarkan Dhamma. Semuanya itu memperkuat keinginan saya untuk menjadi bhikkhu. Saya melihat para bhikkhu hidup sederhana. Tidak disibukkan dengan mencari materi sebagaimana layaknya masyarakat dan tidak mempunyai banyak materi. Bahkan sangat sederhana. Tetapi para bhikkhu mempunyai kehidupan yang bahagia. Dan kehidupannya juga bermanfaat bagi orang banyak, tidak hanya bagi lingkungan kecil, keluarganya sendiri, seperti para perumah tangga.

Alasan-alasan itulah—yang saya lihat dengan mata kepala sendiri dan saya ikut terlibat dalam kehidupan para bhikkhu sehari-hari di Yogyakarta—yang juga memperkuat keinginan saya untuk menjadi bhikkhu. Akhirnya orangtua mengijinkan saya untuk menjadi bhikkhu.

Setelah saya menjadi bhikkhu, harapan orangtua yang dahulu meminta saya untuk studi dulu, menunda menjadi samanera, yang dahulu saya anggap sebagai penghalang cita-cita luhur menjadi bhikkhu, sekarang saya membuktikan bahwa harapan orangtua itu ternyata sangat berguna sekali. Dengan pengetahuan yang meskipun tidak banyak—yang saya dapat pada waktu menjadi mahasiswa di fakultas psikologi Universitas Gajah Mada—membekali saya untuk mampu menyampaikan Dhamma dengan lebih baik. Memang dalam dunia di mana sains, ilmu pengetahuan berkembang dan digunakan dengan baik oleh masyarakat luas, para bhikkhu yang ingin menjadi Dhammaduta, menyampaikan bimbingan Dhamma kepada masyarakat, sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang memang tidak harus banyak, tetapi cukup membantu dalam pengabdian para bhikkhu memberikan pembinaan Dhamma kepada masyarakat. Oleh karena itu, sekarang saya sungguh berterima kasih bahwa orangtua mendorong saya untuk menyelesaikan sekolah saya sampai maksimal melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.

Memasuki kebhikkhuan

Pada tahun 1969 datang di Indonesia empat orang Dhammaduta dari Thailand untuk membantu mengembangkan Agama Buddha di Indonesia. Mereka adalah Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn, Ven. Phra Kru Pallad Viriyacarya, Ven. Phra Maha Prataen Khemadas, dan Ven. Phara Maha Sujib Khemacharo.

Bhante Vidhurdhammabhorn yang juga akrab di panggil bhante Wim, menjadi upajjhaya yang mentahbiskan saya menjadi samanera di Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung pada tanggal 24 November 1974. Waktu pentahbisan saya sebagai samanera, di Kaloran, hadirlah bhante Girirakkhito dan bhante Jinapiya. Meskipun mereka sudah bergabung dalam Sangha Agung Indonesia, hubungan dengan Sangha Agung Indonesia sudah tidak harmoni lagi. Hadir juga bhante Khemasarano, dan beberapa samanera yang tentu bukan anggota Sangha Theravada Indonesia, karena Sangha Theravada Indonesia belum berdiri.

Bhante Vidhurdhammabhorn yang akrab dipanggil bhante Wim, waktu itu mondar-mandir di Tangerang, di Jakarta di beberapa rumah yang disediakan oleh umat, dan di Malang di Dhammadipa Arama. Hubungan beliau dengan Sangha Agung Indonesia yang merupakan satu-satunya sangha waktu itu, tidak harmoni. Beliau bukan anggota Sangha Agung Indonesia. Apalagi beliau bhikkhu dari luar negeri. Sebagai samanera, saya bukanlah anggota sangha. Saya bertanggung jawab pada upajjhaya saya, bhante Vidhurdhammabhorn dari Wat Bovoranies Vihara. Samanera adalah tanggung jawab penuh upajjhaya.

Waktu itu Vihara Mendut belum ada. Saya tinggal di Yogyakarta. Di suatu kuti kecil di belakang rumah umat, Ibu Soepangat Prawirokoesoemo. Tanggal 2 Januari 1976, saya pindah ke Vihara Mendut, yang tanahnya masih sekitar 200 meter. Vihara Mendut adalah milik Yayasan Mendut, yang waktu itu pendiri atau pengurusnya antara lain: Ibu Soepangat, Bapak Suradji.

Setelah lebih dari 2 tahun menjadi samanera, tepatnya tanggal 21 Februari 1977, saya ditahbis menjadi bhikkhu di Wat Bovoranives Vihara, Bangkok. Upajjhaya saya adalah His Holiness Somdeth Phra Nyanasamvara. Beliau adalah Sangharaja Thailand yang sekarang.

Penahbisan samanera
Nama penahbisan: Tejavanto
Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung, 24 Nopember 1974
Upajjhaya: Y.M. Vidhurdhammabhorn
Acariya: Y.M. Vidhurdhammabhorn

Penahbisan bhikkhu :

Nama penahbisan: Pannavaro
Wat Bovoranives Vihara, Bangkok, Thailand, 21 Februari 1977
Upajjhaya: Y.M. Suvaddhano
(H.H. Somdeth Phra Nyanasamvara – Sangharaja Thailand sekarang)
Kammavacariya, Guru Penahbisan: Y.M. Dhammadiloka
Anusavanacariya, Guru Pembimbing: Y.M. Vidhurdhammabhorn

Gelar Kehormatan

7 Gelar kehormatan keagamaan dari Sangha Sri Lanka
1 Gelar kehormatan keagamaan dari Sangha Thailand
Jabatan : Kepala Sangha Theravada Indonesia
Kepala Vihara Mendut, Magelang, Jawa Tengah
Kepala Vihara Dhamma Sundara, Solo, Jawa Tengah
Pendiri bersama Konferensi Agung Sangha Indonesia
(All Indonesia Conference of Sangha)

Ditulis oleh: Robby Candra

Posted in Uncategorized | 1 Komentar

Mengenal Lebih dekat dengan Romo Cunda

Riwayat Singkat

Saya dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara dengan nama Jugiarta Supandi dikota Bogor yang terkenal dengan kota hujan pada tanggal 22 September 1947 dan alamat sekarang adalah Gardu Tinggi 39, Bogor 16142 Jawa Barat.

Ketertarikan saya pada agama Buddha itu bermula dari mendengar alunan suara Paritta pada acara Proklamasi Kemerdekaan tahun 1964. Entah mengapa mendengar alunan suara tersebut membuat perasaan saya sangat tersentuh dan terasa sangat menentramkan, Padahal waktu itu saya belum mengerti Buddha Dhamma. Dan alunan suara paritta tersebut seperti menyadarkan dan memanggil saya dalam belajar lebih jauh mengenai Buddha Dhamma.

Saya mengenal Buddha Dhamma pertama kali adalah melalui Dhammaclass yang diadakan oleh Romo Pandita Dhammavirja di Bogor dan itu pengalaman yang sangat berkesan , selanjutnya saya aktif mengikuti latihan meditasi Vipassana dibawah bimbingan Bhante Khemacaro Mahathera seorang Dhammaduta dari Thai sekitar tahun 1969 dan pertama kali pula pengalaman meditasi saya melalui Beliau , Selanjutnya beliau juga menganugrahi saya sebuah nama Buddhis dengan nama Cunda, yang saya pergunakan dan dikenal secara umum oleh Umat Buddha sampai sekarang.

Kemudian karena suatu sebab dari tahun 1970 saya tidak pernah aktif dalam bidang Dhamma sampai akhirnya ditahun 1989 saya merasa tergerak untuk kembali menekuni Buddha Dhamma.

Pada tahun 1989 atas saran Bhante Ashin Jinarakkhita saya ikut penataran P4 dan Pelatihan Pandita Majelis Buddhayana yang diselenggarakan di vihara Sakyawanaram di Pacet, Cipanas dan atas usulan Ibu Pandita Mettapadma, Ibu Pandita Padma Shanti dan Romo Hudaya Kandahjaya saya kemudian ditabiskan sebagai Pandita oleh Bhante Dharma Suryabhumi .

Dan dari sejak itu sampai sekarang ini saya berusaha untuk mengembangkan Buddha Dhamma disetiap waktu dan kesempatan yang saya punya.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Aktivitas :
1. Sebagai Nara sumber:

a. Seminar Agama Buddha di Jakarta, Cipanas, Bandung , dan Lampung.
b. Media elektronik, seperti: RCTI, TVRI, RRI Jakarta, Radio Cakrawala Jakarta, Radio Smart FM Jakarta, RRI Bandung, Radio Bandung Suara Indah (Mei Sheng).

2. Penceramah Dhamma :
a. Vihära di Jakarta, Banten, Jawa Barat, JawaTimur, Bali, Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kepri, Sumatra Utara dan Kaltim.
b. Kegiatan keagamaan karyawan dibeberapa perusahaan di Jakarta.
c. Kegiatan keagamaan Keluarga Mahasiswa Buddhis Perguruan Tinggi
(Usakti, Untar, Binus, IBBI, Unpas, UI, IPB, ITB, Unpad, Unpar dan Maranatha).

3. Pengajar
a. Asisten dosen agama Buddha di IPB Bogor (1988 – 1991).
b. Dosen Dhammavibhanga, Abhidhamma, dan Tatabahasa Pali di IIAB Smaratungga Cabang Bandung (1993 -1996).
c. Dosen Abhidhamma dan Tatabahasa Pali di STIAB Jinarakkhita Lampung (2005-2006).
d. Guest Lecturer of Religious Study (Mb3203), School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (2007)

4. Penulis:

a. Naskah Dhamma di pelbagai majalah Buddhis
b. Penulis kitab Agama Buddha, seperti:
1. Dhammacakkappavatana Sutta, Juli 1988.
2. Tatabahasa Pali, Oktober 1993.
3. Parittä, April 1994.
4. Tatabahasa Pali (Revisi), Desember 1995.
5. Dhammapada, juli 1997.
6. Dhammapada plus Kosakata, Desember 2003
7. Parittä, Januari 2004.
8. Abhidhammatthasaógaha, Februari 2005
9. Cetiyac±rikä (Perjalanan ke Tanah Suci Buddha), Februari 2007
10. Cergam Kisah Naga Nandopananda, September 2007
11. Album Pilgrimage to The Land of Buddha, September 2008

Dan Penghargaan dari pelbagai kalangan (baik umum maupun akademis)

1. DR (HC) dari American World University dalam bidang sosial kemasyarakatan, 27 Agustus 2000.
2. Penghargaan Departemen Agama Republik Indonesia , 2 Mei 2002.
3. Penghargaan Kepala Badan Kesatuan Bangsa Provinsi DKI Jakarta 4 Mei 2002.
4. Penghargaan `Íri Kalyäôa Dharma Ganthakära` Alumni Gelanggang Remaja Buddhis Dharmayuga Jakarta20 Oktober 2002.
5. Piagam penghargaan dari MBI Pusat, pada HUT MBI ke 50 di Candi Borobudur 23 Juli 2005

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Joky “Sang Guru”

Riwayat Singkat

Pertengahan bulan Juni 1967 di sebuah kota kecil, Pangkalpinang, di pulau Bangka, aku dilahirkan di sebuah rumah yang sangat sederhana, di sebuah rumah kontrakkan, yang berukuran sekitar 4 m x 10 m. Aku masih mengingat kondisi rumah yang pernah aku tempati sewaktu masih kecil itu. Lantai ruang tamu dan menuju kamar udah di floor dengan semen, namun ruangan dapurnya masih berlantaikan tanah liat, sehingga bila hari hujan, air hujan yang menembus atap ruangan dapur yang masih beratapkan pelepah daun pohon rumbia ( sejenis pohon kelapa ) akan membuat becek lantai dapur rumahku.

Kondisi atap rumahku tidak semuanya terdiri dari bahan genteng, hanya di bagian depan rumah saja, sedangkan dapurnya masih beratapkan daun rumbia. Dan dengan berdinding rumah dari papan. Yah, begitulah kondisi rumah sederhana yang hanya mampu kami huni pada masa itu. Dan karena pernah mengalami masa masa sulit seperti inilah maka aku tidak pernah membedakan pergaulan dengan orang kaya ataukah dengan orang dari keluarga sederhana. Namun, aku merasakan suasana yang bahagia pada masa itu. Perasaan kekeluargaan para warga kampung membuatku bebas bermain dengan para tetangga.

Namun ada satu hal yang pernah di ucapkan oleh mamaku yang masih aku ingat, yaitu, aku suka mendengar lagu-lagu yang diperdengarkan lewat radio di rumah tetangga sampai terkadang ketiduran di depan rumahnya. Lucu, begitulah polahku waktu berumur beberapa tahun sampai dengan berumur sekitar 4 tahun.

Akhirnya aku pindah ke rumah yang di beli oleh papaku, yang menjadi rumah keluarga sampai sekarang. Rumahku yang sekarang cukup luas dibanding dengan rumah kontrakkan, sekitar 8 m x 40 m, namun sekarang tanah kosong belakang rumah juga sudah dibeli papaku, yang mungkin total luas rumahku sekarang sekitar 750 m2. Yah papaku seorang pekerja yang ulet, namun sesungguhnya jarang orang yang tahu kalau sebenarnya beban ekonomi keluarga menyebabkan papaku mengalami kesulitan untuk menamatkan SD nya. Yah, kakekku hanya seorang nelayan, dan bertempat tinggal dekat pantai, nenekku sudah meninggal sejak papaku masih kecil. Namun bagi seseorang yang pernah menjadi anak jalanan dan tidak lulus SD kemudian menjadi seorang pedagang dan pemborong yang berhasil, itu bukanlah suatu prestasi yang mudah di capai. Namun dalam kesehariannya, papaku sangatlah sederhana. Setiap hari hanya berkendaraan motor ke toko, hanya sesekali memakai mobil bila ada kepentingan.

Dan hampir setiap hari papaku memakai kemeja warna putih polos dengan celana panjang warna gelap. Dalam kesehariannya, orangnya pendiam, jarang bicara kalau dirasa kurang perlu. Dan kebiasaan papaku berlangsung terus sampai beliau menutup mata tgl 22 Nopember 2005. Itu yang berkesan buatku. Dan kesederhanaan papaku sangat menjiwai hidupku dimasa selanjutnya.

Rumahku yang baru ini masih satu kampung dengan rumah kontrakkan, berjarak beberapa ratus meter. Kepindahanku ke rumah baru, dirayakan dengan suatu pesta kecil dengan para tetangga. Namun ada satu kejadian yang mengusik kebahagiaan pesta itu. Itu semua karena ulahku. Pada suasana pesta itu, aku mencari taperecorder, karena aku lagi mau mendengar lagu. Dan ku lihat tape itu ada diatas lemari pajangan, yang berpintu kaca yang digeser. Aku dorong meja mendekati lemari tsb dan naik keatas meja untuk menjangkau tape nya. Namun naas, badanku limbung sebelum berhasil mencapai tape tsb sehingga jatuh menabrak kaca lemari tsb sehingga kaca lemari itu pecah berantakan, lutut ku sobek, sehingga malam itu mesti langsung dijahit. Aku masih ingat bagaimana aku meronta-ronta dan dipegang sekitar 6 atau 7 orang pada saat lututku di jahit di RS.

Di rumah yang baru ini, aku mempunyai teman baru, para tetangga, yang di antaranya adalah teman sekolahku. Aku sekolah di Budi Mulia, dari TK hingga SMP. Waktu itu sekolahku mempunyai ke-khas-an dalam hal siswanya yaitu, hanya menerima murid putera saja, sehingga pada saat TK dan SD aku tidak pernah se kelas dengan murid puteri. Semuanya putera, dan tentu saja kalau jam istirahat, kami bermain lari-larian dan bahkan terkadang main tawuran, namun semua hanya sebatas jam istirahat saja, dan sesudah lonceng masuk kelas, kami menjadi teman lagi seperti biasa. Pembauran dengan murid puteri baru terjadi ketika aku menginjakkan kakiku di SMP, namun masih sedikit, karena baru beberapa orang. Mungkin saat ini, setelah beberapa puluh tahun berselang, jumlah siswa putera dan puteri nya sudah berimbang.

Kecintaanku pada musik dan lagu, menyebabkanku sering mengamati lagu-lagu yang sering ku dengar. Aku sering mengamati harmonisasi nada lagu tsb. Dan dari hasil pengamatanku, ternyata alunan melodi tertentu akan membuat perasaan tertentu bagi yang mendengar, dan tentu saja dengan syair yang senada dengan irama lagu. Era tahun 1970-an muncul penyanyi anak Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Ira Maya Sopha dll. Untuk groupband nya ada Koes Bersaudara kemudian menjadi Koes Plus, The Mercys, Panbers, Black Brothers, Deloyd dll. Dan untuk group vokal luar negeri, aku suka Boney M dan ABBA. Dan ditahun 1980an muncul Obbie Messakh, Rinto Harahap, Pance, Ebiet, Iwan Fals dll.

Pada masa kecilku, sewaktu di SD, aku sudah mencoba menggubah alunan lagu sambil membayangkan kalau seandainya aku membuat lagu maka iramanya harus begini dan begitu. Ehmmm, sungguh lamunan yang cukup indah pada masa itu. Dan itu semua terus berlanjut sampai dengan SMP. Namun pada masa itu aku masih belum bisa sama sekali memainkan satu alat musik pun. Dan pada suatu ketika pada ujian akhir kesenian, aku terpaksa belajar memainkan gitar, karena bila ujian akhir kesenian diisi dengan bernyanyi sambil bermain gitar, maka akan menjadi nilai tambah buat siswanya. Jadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu sebelum hari H waktu ujian, aku setiap hari berlatih gitar dengan cara bertanya pada teman yang sudah pintar. Sungguh, jari tangan kiriku merasakan suatu rasa nyeri sampai agak kebiruan, karena setiap hari mencoba memencet senar gitar. Pada saat ujian, aku mencoba maju dengan menggunakan gitar untuk mengiringi laguku yang berjudul Desaku. Tapi apa mau dikata, ternyata permainan gitarku masih kacau, sehingga guruku menyuruhku untuk bernyanyi saja dengan diiringi gitar guruku.

Namun masih aja suaraku terasa fals dan tidak bisa mengikuti alunan gitar guruku. Dan akhirnya guruku menyuruhku bernyanyi saja tanpa diiringi gitarnya. Yahh, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk belajar gitar, apadaya kemampuanku cuman sampai segitu. Tapi setelah ujian SMP, aku tetap terkadang melanjutkan belajar gitar secara otodidak, dan sesekali bertanya dengan teman yang sudah mahir, soal kunci dari lagu, sambil membayangkan suatu ketika aku bisa bermain gitar dengan baik.

Prestasiku selama di SD dan SMP cukup membanggakan, biarpun tidak sampai ranking 1 namun hampir selalu masuk 3 besar dan yang terbaik adalah juara 2 kelas. Untuk nilai yang tertinggi adalah nilai matematika, yaitu 9 di ijazah. Yah, sebenarnya aku suka hitung hitungan, namun aku juga suka suatu imajinasi. Dan buku cerita favoritku waktu SD, pengarangnya adalah HC Handersen disamping cerita pahlawan super hero, misalnya gundala, superman, dll dan saat SMP dengan pengarang Enyd Blyton dengan serial Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga dll.

Tahun 1983, aku hijrah ke Yogya, melanjutkan SMA ku di SMA BOPKRI I, belakang RS Bethesda. Itu kulakukan karena mengikuti saran walikelasku, pak Hadi ( beberapa tahun yang lalu sudah meninggal dunia ). Pak Hadi dengan murid murid kelasnya mempunyai ikatan batin yang cukup dalam. Dia menganggap kami semua muridnya adalah anaknya. Satu persatu kami di anjurkan untuk sekolah di luar kota, termasuk aku dengan alasan supaya kami menjadi anak yang mandiri. Dan lucunya lagi, kebanyakan muridnya mengikuti saran pak Hadi, yang kami anggap orangtua sendiri. Dan sesampai di Yogya, pak Hadi mengirimkan surat kepadaku dan teman sekamarku, yang juga teman sekelasku waktu SMP, yang isinya bila masih mau mengakui beliau sebagai orangtua, maka kami harus kursus matematika atau kursus bahasa Inggris. Akhirnya aku dan temanku memilih kursus bahasa Inggris dengan seorang guru yang pernah tinggal di Australia. Dan selepas SMA temanku langsung melanjutkan sekolahnya ke Australia sedangkan aku ke Universitas Tarumanagara di Jakarta.

Selama SMA, aku menggandrungi novel misteri karya karya V Lestari. Disamping cerita silat karya Khu Lung ataupun Asmaraman S Khoo Ping Ho. Membaca cerita silat sebenarnya adalah hobiku sejak SD. Kalau sudah keasyikan membaca, maka akan terasa lupa waktu, terkadang kebablasan sampai subuh.

Di Yogya, hobi musikku aku lanjutkan. Secara tak sengaja ada teman kos membawa gitar tua, dan aku coba memetik gitar lagi. Dan kemudian menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajan untuk membeli satu gitar sendiri. Dan aku mulai mencoba menggubah lagu. Tahun 1985, aku membuat lagu mars kelasku yang berjudul Pujana ( Putut Jaya Prana ) yang artinya murid jaya yang mempesona. Suatu kebanggaan buatku. Setiap kali acara kelasku, laguku selalu dinyanyikan. Dan akhir desember 1985 aku ikut retret dengan gereja Kristen Kalam Kudus di Kaliurang, yang mana aku mengiringi mereka bernyanyi beberapa hari. Lumayan buat pengisi liburan dan hobi dan umat gereja pada tahu kalau aku hanya simpatisan saja, sebagai penggembira dan bukan beragama Kristen. Sewaktu di Yogya aku sering ikut kegiatan keagamaan baik Kristen, Katolik ataupun Kong Hu Cu. Karena sering ikut kegiatan keagamaan lain, maka aku jadi tahu lagu lagu mereka. Namun agama Buddha tak pernah aku ikutin sampai dengan lulus SMA.

Ajaran Buddha agak asing bagiku. Sewaktu aku kecil, aku tak pernah mempelajarinya, karena Ajaran Buddha belum masuk ke pulau Bangka, dan agama Buddha tidak ada di lingkunganku. Teman-temanku waktu SD dan SMP banyak beragama Katolik, karena aku bersekolah di Budi Mulia, suatu Yayasan Katolik. Sedangkan SMA, banyak beragama Kristen karena sekolahku bernaung di Yayasan Kristen. Waktu itu temanku tak ada satupun yang beragama Buddha. Namun ada satu hal yang menurutku sedikit agak menarik yaitu, mamaku menukar namaku dari nama yang lama menjadi nama yang baru yaitu Fuo Kuang (Sinar Buddha). Itu terjadi karena aku sering sakit sakitan, mamaku mendengar saran salah seorang di klenteng di Bangka waktu aku masih kecil. Dan memang setelah itu aku menjadi tidak terlalu sering sakit lagi. Oh yah, waktu itu di Bangka yang ada hanya klenteng, belum ada vihara seperti sekarang ini. Nama itu masih ku pakai sampai sekarang, biarpun itu adalah suatu nama yang aneh dan tidak pernah dipakai di negeri China, kata orang China waktu aku berkunjung ke sana.

Aku mulai mempelajari agama Buddha, ketika aku kuliah di Universitas Tarumanagara tahun 1986, suatu mata kuliah agama pilihan selain Kristen, Katolik dan Islam. Awalnya aku tidak begitu familiar, namun setelah dipelajari, ternyata akhirnya aku merasa cocok, karena banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya pada masa lalu, kini aku mulai mendapat jawabannya. Yah, pilihan agama yang kita anut tergantung kecocokan kita, itu menurutku. Kemudian aku diajak ke Dharmayana (suatu organisasi mahasiswa Buddhis Untar) oleh temanku yang aku kenal saat plonco yang bernama Parsan. Parsan mengetahui aku bisa membuat lagu karena dia satu kelompok denganku di malam api unggun Perkemahan Fakultas Ekonomi yang diadakan di Cipelang, Sukabumi tahun 1986, dimana waktu itu kelompokku menyanyikan lagu yang baru aku ciptakan untuk acara malam api unggun tsb.

Lagu Buddhis Pertama

Di Dharmayana aku langsung membuat lagu Buddhis. Lagu Buddhis yang pertama berjudul Dhamma Sang Buddha yang aku ciptakan tahun 1986 itu juga, kemudian lagu kedua di tahun yang sama berjudul The Life Of Buddha. Pada awalnya proses penciptaan lagunya, aku banyak bertanya tentang syair lagu dengan teman yang sudah beragama Buddha duluan. Maklum, pengetahuanku tentang ajaran Buddha waktu itu masih sangat minim. Itulah awalku terjun dalam dunia lagu lagu Buddhis.

Saat itu, hampir setiap hari aku mampir di Dharmayana, berkumpul dengan teman teman kampus dan bernyanyi. Angan-anganku waktu itu adalah laguku bisa dinyanyikan dan semoga juga bisa ditayangkan di TV. Pada mulanya, aku berusaha untuk membuat musik untuk laguku, karena kalau diiringi dengan gitar saja, akan terdengar sederhana. Karena keterbatasan dana waktu itu, jadi aku belum mampu membayar seorang arranger. Aku pernah coba menggubah lagu dengan menggunakan musik minus one yang sudah ada yang dijual dalam bentuk kaset. Dari lagu yang sudah ada, aku coba buat lagu baru dengan alunan nada baru dengan musik lagu lain. Tapi jadinya bagus juga, karena seharusnya itu adalah lagu baru biarpun kuncinya sama. Lagu itu dinyanyikan oleh seorang penyanyi Dharmayana yang bernama Vivi di malam acara Inaugurasi fakultas Tehnik.

Waktupun kian berlalu. Aku mulai mendedikasikan hidupku untuk kepentingan lagu-lagu Buddhis. Satu per satu lagu aku ciptakan. Dan lagu-laguku mulai di nyanyikan di kebaktian agama Buddha di Untar. Anak-anak Dharmayana menulis syair laguku di kertas lagu dan di fotocopy untuk dinyanyikan waktu kebaktian. Laguku yang paling populer pada masa itu adalah berjudul Sang Bhagava yang aku ciptakan pada bulan agustus 1990. Kemudian lahirlah lagu Sang Guru dan Hadirkan Cinta tahun 1995.

Di tahun 1991 aku mendapat kesempatan rekaman di Musica Studio, setelah menjadi finalis lomba cipta lagu Buddhis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh KMBJ (Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta) yang akhirnya laguku mendapat juara II. Dari situlah awalku masuk dunia rekaman berlanjut.

Saat liburan tahun 1991, aku dan teman kampus Untar, yang tergabung dalam Dharmayana, berkesempatan mengikuti athasila dipimpin oleh Bhante Sujivo (sekarang sudah lepas jubah).

Di samping hobiku dalam lagu-lagu Buddhis, aku bekerja di bidang akunting sesuai dengan disiplin ilmu yang aku pelajari di Untar yaitu Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Dan dari hasil kerjaku, selanjutnya aku membiayai kuliahku sendiri. Awalnya aku bekerja di salah satu konsultan pajak sebagai auditor tahun1989, kemudian di akhir tahun 1989, aku pindah sebagai Chief Accounting di salah satu perusahaan perdagangan. Selanjutnya beberapa kali pindah, terakhir tahun 1995 di perusahaan Jepang sebagai Chief Accounting. Setelah perusahaannya tutup akhir tahun 1995, aku membuka usaha sendiri sebagai konsultan pajak dan sebagai supplier dengan berkantor di dekat jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Dan tahun 1997, aku membuka kantor di jalan mangga besar hingga tahun 1998 (hanya setahun, ditutup tidak lama setelah kerusuhan). Selanjutnya aku berkantor di rumah dekat jalan gajahmada.

Aku mulai mencoba menyisihkan penghasilanku untuk membiayai rekamanku sendiri.

Album pertamaku berbentuk kaset di realease waisak tahun 1997, dengan judul album Sang Guru.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana aku menjaga kelangsungan produksi album album Buddhisku yang nota bene awalnya bukanlah profit centre. Yah, aku membiayai semuanya dari penghasilanku pada kerjaanku sebagai konsultan pajak. Untuk itu aku mempertaruhkan semua penghasilanku. Tindakan bodoh, kata sebagian besar orang. Tapi, hasilnya, aku sungguh puas, karena ternyata bisa berkesinambungan. Aku merasa semua perjuangan dan pengorbananku tidak sia sia. Lagu Buddhis yang aku ciptakan sering ku dengar bergema dimana mana, baik di vihara vihara, ataupun di rumah dan di mobil. Bahkan sekarang sudah menjadi nada sambung pribadi di HP.

Album Sang Guru adalah album pertama produksiku yang berlebel Joky Music Production. Karena awalnya masih belum tahu bagaimana sambutannya, maka aku berikhtiar dalam hati, bila albumku diterima di hati para pendengar lagu Buddhis, maka aku akan meneruskan perjuanganku, dan bila tidak diterima maka aku akan berhenti di album ini saja. Ternyata kenyataannya, albumku diterima.

Dari album Sang Guru yang fenomenal, karena mendapat sambutan yang cukup baik dari para pencinta lagu Buddhis, dan akupun mulai terus membuat album album berikutnya.

Ada terselip satu cerita bergenre misteri dari awal perjalanan keluarnya lagu Sang Guru, yaitu cerita yang disampaikan oleh seorang teman yang bernama Liwei (salah seorang pengasuh sekolah minggu di Vihara Dhammacakka waktu itu). Tidak berapa bulan dari masa keluarnya album Sang Guru, di satu siang, Liwei menghubungiku dan menceritakan satu kisah. Ceritanya, salah seorang temannya barusan menghubunginya untuk bertanya tentang apakah Liwei mengetahui suatu lagu yang mendadak bisa dinyanyikannya namun tidak di ketahui judulnya. Kepada Liwei, temannya bercerita bahwa semalam dia bermimpi bertemu dengan seorang anak perempuan kecil berambut ikal dan berkulit agak gelap pada saat sedang menunggu bus, dan anak perempuan tersebut duduk di sebelahnya dan tak jauh dari mereka duduk juga seorang nenek tua. Anak perempuan tersebut meminta tolong kepada temannya Liwei untuk mengajarinya sebuah lagu, dan temannya Liwei mengajarkan lagu yang berjudul Sang Guru, yang bisa dinyanyikannya dengan lengkap syairnya, padahal menurut dia, lagu tsb belum begitu dipahami, karena dia bukanlah seorang pencinta lagu Buddhis, bahkan bila ada yang menyetel lagu Buddhis di dekatnya, maka suara lagu tsb di kecilkannya. Ketika terbangun, dia langsung bisa hapal akan lagu itu, baik irama lagu maupun syairnya. Namun semakin siang syairnya mulai lupa.

Nah pada saat itulah dia mulai menghubungi beberapa temannya untuk menanyakan perihal lagu yang dianggapnya misteri itu. Nah sampai siangnya, dia tersambung dengan Liwei, dan Liwei menjelaskannya kalau dia tahu lagunya dan mengenalku juga sebagai penciptanya. Namun orang tsb berpesan pada Liwei agar identitasnya tidak dibocorkan. Dan menurut Liwei, mulai hari itu, temannya tsb pasti menyetel lagu Sang Guru setiap pagi sebelum berangkat kerja, dan di kantornyapun menyetel lagu Sang Guru juga, karena bos nya ternyata seorang Buddhis. Akupun kemudian mencoba mencari tahu bagaimana kejadian ini bisa terjadi, dimana seseorang secara mendadak mampu menyanyikan lagu yang sebelumnya tidak dihapalkannya. Salah seorang Bhante kemudian menjawab, bahwa mungkin saja ada Dewa yang menyukai laguku.

Album album lainnya mulai ku buat. Semuanya dalam bentuk kaset. Satu persatu keluarlah Album Jataka Kelinci, Album Bhante Giri, Album Tiga Permata, Album Sujud Bagi Sang Guru dlsb dan sampai tahun 2009 ini mungkin sudah lebih dari 70 album baik kaset, CD maupun VCD yang di produksi.

Dan mulai tahun 1999, aku coba membuat VCD Karaoke Sang Guru, yang mengambil lokasi shooting dibanyak tempat dan banyak negara. Hal itu aku lakukan agar produksi lagu rohani Buddha yang notabene adalah masih berumur sangat muda keberadaannya di Indonesia, namun ada yang bisa dibanggakan bila dibandingkan dengan produksi rohani lain. VCD Sang Guru adalah proyek yang cukup lama dan memakan biaya yang cukup besar karena mengambil lokasi shooting di China (Beijing, Guang Zhou, Shen Zen), Hongkong, Thailand (Bangkok), Singapura, Malaysia (Kuala Lumpur) dan Indonesia(Jakarta, Batam, Bandung, Bangka). Dan di realease pada tahun 2000 dan merupakan VCD karaoke rohani Buddhis pertama di Indonesia (namun rekor MURI belum populer waktu itu, jadi tidak didaftarkan, hehe…). Dan kesuksesan juga mengiringi perjalanan VCD ini.

Setelah selesai pembuatan VCD Sang Guru, kejenuhan mulai menghinggapi diriku. Serasa aku sudah harus mundur dari pecaturan dunia seni ini. Namun selalu saja ada sosok yang mendampingiku di tengah jenuhku, yaitu dari seseorang yang kadang baru kukenal, memberiku support moril agar aku terus berkarya. Biasanya kejenuhan ini seperti skala yang rutin, akan menghinggapiku beberapa tahun sekali.

Tahun 2002, Januari, aku mencoba membeli peralatan studio sendiri yang sederhana, dan menempatkannya di salah satu tempat yang disewa di belakang Stasiun KA Beos Kota. Beberapa bulan kemudian, aku memindahkan studioku di Ruko Willtop, di jalan Pangeran Jayakarta. Semua ini ku lakukan agar bisa lebih konsentrasi dan lebih lancar serta dengan harapan biaya produksi bisa lebih di tekan, karena sudah memiliki studio sendiri. Memang, setelah itu, aku lebih produktif. Produksi CD mulai juga di buat. Dan disamping itu umat Buddha banyak juga yang menggunakan fasilitas studioku untuk keperluan rekamannya.

Beberapa tahun studio ku di ruko Willtop, aku cukup produktif, kaset, CD dan VCD terus ku produksi, namun semakin kedepan, era kaset mulai perlahan-lahan menghilang. Dan untuk masa sekarang, aku cuman memproduksi CD dan VCD.

Selama masa ini, aku mulai berhubungan lagi dengan teman teman kampusku yang sudah lama tidak pernah ketemu, dan semua ini karena buah manis dari hasil pembuatan lagu lagu rohaniku, sehingga keberadaanku agak gampang di ketahui. Dan aku banyak menjalin hubungan baik dengan beberapa orang, bahkan serasa adalah keluarga sendiri.

Keberadaan studioku di ruko Willtop sampai agustus 2005, dan studio kupindahkan di rumah peninggalan orangtuaku yang kosong, yang dulu dibeli dengan harga hanya beberapa juta dan aku tidak tidak begitu pasti lagi kapan tahun pembeliannya. Dan disamping itu aku juga membuat satu studio di Bangka. Akupun menetap di Bangka dengan sesekali tinggal di Jakarta.

22 Nopember 2005, papaku menutup mata selamanya, dan meninggalkan satu kenangan yang mendalam buatku. Aku merasa masih banyak harapan papaku yang belum bisa aku penuhi. Dan dengan segala kerendahan hati aku mendoakan papa terlahir dialam bahagia. Sekarang tinggal seorang mama yang memilih hidup sendiri, di sebuah rumah sederhana di Bangka.

Aku mulai merenovasi rumahku di Bangka dan mulai mengaktifkan studioku. Album daerah Bangka dan rohani Buddha tetap kubuat di studioku yang berlokasi di komplek pergudanganku yang tak jauh dari rumahku di Pangkalpinang, Bangka, yang berarea kuranglebih 1700 m2. Aku memakai salah satu gudang tersebut untuk kujadikan studio. Sekitar akhir tahun 2006, ketika aku sedang berdiri di depan rumah, mengawasi tukang yang masih membereskan kerjaannya dan waktu saat itu menunjukkan pukul 7 malam, seseorang yang berdomisili di jakarta, dan belum kukenal menghubungi hp ku. Sebenarnya telpon dari seseorang yang beragama Buddha di Indonesia walaupun belum ku kenal kerap ku terima, biasanya mereka ngobrol soal lagu Buddhis. Namun kali ini orang yang belum kukenal ini ingin bertemu. Baiklah…, kataku kemudian.

Aku ke jakarta hari sabtu, 10 Februari tahun 2007 siang hari, aku menghubungi orang tsb dan aku di jemput di airport.

Ternyata pertemuanku dengan orang ini merubah perjalanan hidupku. Dia menyarankanku untuk kembali ke jakarta dan berdomisili di jakarta. Jakarta adalah tempatku. Begitulah kira kira inti dari ucapannya.

Aku menyetujuinya. Aku mulai berbenah lagi, memindahkan studioku yang di Bangka dan dari rumah peninggalan orangtuaku yang di dekat jalan Gajahmada, untuk selanjutnya berdomisili di Pluit, di tempatku yang sekarang.

Lembaran baruku di Jakarta dimulai lagi. Studioku di Pluit, Jakarta, dirayakan pembukaannya pada pertengahan bulan Mei 2007. Produksi CD dan VCD di mulai lagi.

Dengan lebel JKC Production, aku mulai menapaki kancah dunia rekaman kembali.

Terkadang aku mendapat pertanyaan, bagaimana proses ku mencipta lagu, sehingga bisa terlahir lagu lagu yang seperti sekarang ini ?

Semua lagu rohani Buddhisku tercipta dari dasar hati, dari hasil pengamatan, dari yang telah didengar dan dilihat, dan juga adalah ungkapan perasaan yang ingin disampaikan.

Dan inilah sekelumit contoh proses penciptaan dua dari lagu laguku yaitu Sang guru dan hadirkan Cinta.

Pertengahan tahun 1995, aku berkunjung ke vihara Mahavira Graha di Lodan Ancol, berbincang bincang dengan Suhu Prajnavira sekitar jam 4 sore selama 1 jam, tentang Sang Buddha dan Moggalana, aku sangat berkesan sekali. Aku diajak mengelilingi viharanya yang lama (sekarang sudah menjadi vihara baru yang megah) yang banyak terdapat foto foto Buddha dan menjelaskannya satu persatu. Sekitar jam 6 sore sesampainya di rumah, aku mulai mengambil gitar dan menulis syair yang ingin aku ungkapkan serta mulai merangkai irama lagu, jadilah lagu Sang Guru malam itu sekitar 2 jam kemudian.

Tahun 1995 banyak kejadian demo. Terkadang juga diselingi dengan kerusuhan. Sebenarnya mengapa semua ini bisa terjadi ? Dan bila aku melewati jalan Hayam Wuruk dan jalan Gajahmada pada malam hari, maka akan mendapati pemandangan banyak orang berpakaian rapi keluar masuk tempat hiburan malam. Mencari hiburan…, untuk kesenangan… ? Yah, pasti kira kira begitulah jawaban dari mulut mereka bila ditanya, dan kemudian timbul pertanyaan lagi, untuk tujuan akhir apa ? Maka mulailah aku menulis lagu Hadirkan Cinta.

Coba simak syair lagunya. Pernahkah kita renungi, tentang arah langkah dalam hidup ini, pancarkanlah cinta kasih di lubuk hati, agar bahagia terjadi. Ini adalah pertanyaan dan pernyataanku setelah mengamati semua yang terjadi. Sesungguhnya yang kita cari adalah kebahagiaan yang hakiki bukan kesenangan yang bersifat sementara.

Sadarlah hai manusia, berpedoman yang benar agar bahagia, tebarkanlah cintakasih pada sesama, agar bahagia dunia. Disini aku mencoba memberikan satu solusi agar bahagia, yaitu dengan berpedoman hidup yang benar, pedoman yang mampu mengarahkan kita ke jalan menuju terlepasnya kemelekatan dunia dan mencapai kebahagiaan sejati.

Terkadang hati kita pun terpana, menatap kemilau dunia. Aku coba mengungkapkan dari sisi manusia pada umumnya yang begitu terpana akan keglamoran harta dunia, kecantikan dan keindahan fisik, hal yang umum sebagai manusia menurutku.

Terkadang hati kitapun meronta, rasakan palsunya dunia. Di syair ini aku mencoba mewakili orang orang yang merasa terzalimi yang tidak bisa mendapatkan harapan harapan yang diharapkan, maka timbullah demo dsb. Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih pada sesama, bahagialah semesta, Solusinya adalah kita harus menghadirkan cinta kita bagi semua makhluk dan bagi dunia. Cinta sejati yang gampang di ucapkan namun terkadang agak rancu untuk diartikan. Cinta sejati adalah cinta yang indah yang tidak mempunyai ego, tidak ada aku dan melebur bersama semesta.

Jauhkan diri, dari amarah di hati, agar seluruh alam berseri, menyambut indahnya dunia ini. Kita sepertinya harus benar benar melepaskan baju keakuan kita, dengan tidak adanya aku maka, sifat seperti marah karena tersinggung, sombong karena pintar,terkenal, kaya atau tampan maupun cantik, dapat kita hindari dan tak perlu terjadi, karena sesungguhnya bila kita sadari, semua itu tidak kekal. Dan kitapun dapat mulai merasakan keindahan dunia yang hakiki.

Cerita diatas adalah dua contoh dari proses pembuatan lagu Buddhisku. Demikian juga dengan lagu lagu lainnya yang penciptaannya berproses dari dasar hati.

Ehhmmm, hari ini 9 April 2009, hari pesta demokrasi di Indonesia, Pemilu.

Dan aku mesti mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bhante Bodhi yang merayakan ulang tahunnya hari ini, karena kemarin Bhante Bodhi sudah menghubungiku via hp dan mengundangku datang ke Vihara Buddhametta di Jalan Terusan Lembang, Menteng.

Aku baru saja menyelesaikan 2 album CD ku yang baru yaitu CD Candani dan CD Yovi, masih ada beberapa CD dan VCD yang masih menunggu untuk diselesaikan. Dan juga ada buku yang mesti ditulis, yaitu Buku yang berisi Kumpulan 100 Lagu Lagu karya Joky. Total lagu yang pernah ku tulis sampai dengan saat ini april 2009 berjumlah 100 lagu lebih. Sekitar 100 lagu adalah lagu rohani Buddha dan sisanya adalah lagu umum beraliran pop maupun dangdut.

Hari masih pagi, dan aku coba menyetel TV yang berisikan berita tentang pemilu.

Dan masih ada kabar duka yang terakhir ini yang banyak menyita perhatian rakyat Indonesia yaitu tentang bencana di Situ Gintung yang memakan korban sekitar 100 jiwa serta juga bencana gempa bumi di Italia yang sampai hari ini sudah tercatat korban 250 jiwa. Kematian, selalu datang dengan tak terduga. Tak ada yang tahu kapan napas kita akan berhenti, untuk kembali bersatu dengan semesta. Dan bila saat itu tibapun, tak ada yang kita akan bawa, tidak badan kita karena badan kita akan hancur , tidak juga harta kita. Yang tersisa adalah ingatan orang yang masih hidup tentang catatan sejarah hidup kita, apakah berwarna putih, keemasan ataukah kelam. Bila seandainya kita sadar, bahwa sebenarnya aku ini tidak ada, maka mengapa masih ada kesombongan dan untuk siapakah kesombongan itu

Aku lagi mencoba mengingat apa saja yang mesti aku sampaikan sekarang. Yah aku ingat, aku mesti menyampaikan terimakasih bagi orang orang yang membuat perubahan positif dan mendukungku selama ini.

Orang orang yang memberikan kasihnya kepadaku selama ini :

Pertama tentu saja papa dan mamaku. Kasih orangtua sungguh besar, tak terbalaskan, menyayangiku dari kecil, tanpa bisa terbalaskan. Tiada kasih yang lebih besar di dunia ini bisa melebihi kasih dari orangtua. Memberikan ilmu dengan menyekolahkanku sehingga bisa melangsungkan kehidupan dengan indah dan memberikan keteduhan dan kehangatan dengan sebuah rumah.

Enam orang adik adikku, yang menemani perjalanan hidupku.

Kemudian adalah pak Hadi. Engkau bukan saja guru sewaktu aku di SD dan SMP bagiku, tapi juga orangtua kedua. Tanpa arahanmu, tahun 1983 aku tidak mungkin bersekolah di Yogya.

Haryanto, teman baikku di SMA semasa di Yogya, yang kini tidak tahu keberadaannya, karena hilang komunikasi. Yang sering membawaku ke Gereja Kristen Kalam Kudus dan mengajakku retret akhir tahun 1985 di kaliurang

Para saudaraku dan saudara angkatku di jalan Cimanuk, Tanah Abang 2, Cideng Barat, tempat aku berdomisili pada pertengahan tahun1986, awal aku menetap di jakarta selama setengah tahun, saat rumah orangtuaku yang di gajahmada masih di renovasi. Kalian sungguh baik. Keramahan kalian selalu berada dalam hatiku.

Sahabat sahabat Dharmayana, Universitas Tarumanagara, kekompakan yang tiada akhir, karena biarpun sudah lama berpisah, setiap berjumpa selalu timbul kekangenan.

KMBJ, organisasi Buddhis yang membawaku rekaman pertama kali tahun 1991.

Mantan Bhante Vijito, sekarang berganti nama menjadi Pujianto, yang ku kenal sejak masih samanera, anda adalah sahabat, tempat aku berdiskusi tentang Dhamma tahun 1990an hingga tahun 2000an, namun jalan kebikkhuan telah ditinggalkan. Yah, doaku, apapun jalan yang diambil, jalanilah dengan penuh tanggung jawab.

Meicen, anak Dharmayana, tahun 1991 yang mengenalkanku kepada Meicie Widjaja, yang menjadi penyanyiku, dan mengenalkanku juga kepada Ibu Hartati Murdaya tahun 1994, sehingga aku mendapat kesempatan rekaman di studionya di Tebet di tahun yang sama.

Ibu Hartati Murdaya, sosok fenomenal, namun banyak kebaikan yang telah dilakukannya. Dukungan moril yang pernah diberikan kepadaku sepanjang tahun 1990an, sungguh merupakan energi yang indah buatku untuk tetap eksis di dunia seni Buddhis.

Ayya Santini, figur yang meneduhkan hati bila berbicara, aku mengenalnya sejak masih menjadi Meicie. Selalu sabar menjawab pertanyaanku yang masih sangat awam soal Dhamma, dan pernah juga memberikan usulan syair untuk dibuatkan lagu, yaitu lagu Dhammacakkapavatana Sutta pada akhir tahun 2001.

Pak Chandra, pemilik Toko Media Chandra, di Roksi Mas, sengaja ataupun tidak sengaja, dukungan anda kepadaku sungguh merupakan sebuah kekuatan yang indah yang mampu untuk membawaku melewati masa penuh rintangan pada tahun 2000an awal sampai dengan tahun 2004.

Mas Wandito (Bursa Dhammacakka Sunter), Ahok (Bursa Ekayana) dan distributor serta agen produksiku yang lain. Kalian pendukung setiaku, karena selalu menampung hasil produksi rekamanku.

Kartono atau dikenal dengan nama Awit dan isterinya Meiliana, sahabat dan saudara bagiku, karena memberiku tempat untuk studioku di di jalan Pangeran Jayakarta. Dan menganggapku sebagai saudaranya sampai sekarang.

Dr Evy beserta papa dan mamanya (Pak Mediarto dan Bu Shita), yang memberikan tempat untuk alat studioku tahun 2005 di ruko glodok, karena kepindahan studioku. Sori banyak merepotkan, dan sampai sekarang sudah seperti keluarga bagiku.

Dr Ernawati, adik angkatku yang ku kenal sejak kuliah di Untar, yang menjadi dokter pribadiku, hehe sori banyak merepotkan, karena ternyata aku sering sakit. Pengalaman yang tak terlupakan ketika aku mengalami sakit komplikasi yaitu Demam Berdarah, Tipus dan Liver, dengan kondisi pembuluh darah di hidungku pecah. Kejadian itu terjadi saat hari waisak pertengahan tahun 2006. Untung ada bu dokter Erna dan suaminya yang menampungku di rumahnya dan merawatku hingga sembuh.

Ismail beserta Bu KT, sosok yang menghubungi hp ku akhir tahun 2006 dan mengajakku kembali ke jakarta hingga saat ini. Yang menganggapku sebagai saudara, dan selalu mendukungku.

Para Bhante dan Suhu yang saya hormati yang tak dapat saya sebutkan satu persatu. Kalian guru guru Dhamma saya di dunia ini.

Johnny Djaliman (adik Ismail), Annie (pemain piano), Nawawi (adik ipar Ismail), kalian juga sahabatku.

Dan tak lupa semua pencipta lagu, penyanyi dan pemusikku di studioku. Kalian juga pendukungku yang sejati. Kalian adalah bagian dari keberhasilan dari jerih payahku.

Serta juga semua pencinta lagu Buddhis dimanapun berada di bumi ini. Sukses untuk anda semua, BBU all……

Kegiatan kegiatan yang kerap kujalani selama ini, adalah menjadi juri lomba nyanyi di banyak tempat dan kota di Indonesia dari tahun 1990an sampai sekarang baik untuk tingkat daerah maupun nasional.

Alamat sekarang:
Ruko Grand Pluit Mall Blok B No.3-4
Jl.Pluit Selatan Raya-Pluit
Jakarta Utara-Indonesia
Website: Http://www.jokyproduction.com

Posted in Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menata 5 Aspek Dalam Retret Meditasi Chan

1. Menata Tidur

Janganlah terlalu banyak tidur, tetapi jangan sampai kekurangan tidur. Mungkin Anda pernah punya pengalaman saat anda sudah tidur cukup lama namun karena malas anda meneruskan tidur lagi. Setelah bangun, bukannya tubuh anda merasa segar, tetapi kepala malah terasa berat.

Di masa Sang Buddha, satu hari dibagi menjadi 6 periode. Setiap periode adalah 4 jam. Pukul 6 sore sampai pukul 10 malam adalah periode malam pertama. Dari pukul 10 malam sampai pukul 2 dini hari adalah periode malam ke dua. Dari pukul 2 dini hari sampai pukul 6 pagi adalah periode malam yang ketiga. Demikian pula siang hari dibagi menjadi 3 periode.

Sang Buddha menganjurkan para murid agar hanya tidur pada periode malam kedua yaitu pukul 10 malam hingga pukul 2 dini hari. Pukul 6 sore sampai 10 malam adalah waktu untuk berlatih. Pukul 2 dini hari sampai pukul 6 pagi jugalah waktu yang baik untuk berlatih.

Tentu saja, pola hidup pada masa itu berbeda dengan masa sekarang. Bahkan para monastik pun tidak bisa mengikuti pola hidup seperti itu, kecuali pekerjaan yang harus dilakukan tidak banyak. Jika harus mengikuti pola seperti itu, akan sulit untuk bertahan.

Akan tetapi, dalam retreat yang intensif, secara bertahap pola itu mungkin sekali diterapkan bila kita bisa menjalankan metode dengan baik. Oleh karena dalam retreat yang intensif, pola hidup menjadi lebih sederhana. Kita tidak memerlukan banyak energi untuk berpikir sehingga secara bertahap kita bisa mencapai pola hidup seperti itu.
Menata tidur adalah tidur tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Dengan tidur secukupnya anda bisa berlatih dengan baik.

Jika anda memaksakan diri untuk tidur sangat sedikit maka otak tidak cukup beristirahat. Anda akan cenderung mengalami halusinasi. Namun, ketika anda mendapatkan cukup tidur, maka halusinasi akan hilang.

2. Menata makan.

Sebaiknya jumlah yang kita makan adalah 70-80 persen dari biasanya. Jika sehabis makan anda merasa penuh atau kenyang, anda merasa sulit bernafas, itu artinya anda makan berlebihan. Untuk mencari jumlah yang tepat kita perlu mencoba-coba. Apabila setelah makan, kemudian anda minum atau menghabiskan sup, lalu perut anda merasa cukup penuh, itulah porsi yang cukup.

Kita juga berusaha tidak memakan jenis makanan atau minuman yang merangsang. Misal: Kopi, beer, atau anggur.

3. Menata Tubuh

Menata tubuh artinya kita melakukan gerak tubuh (dan olah raga) yang lembut dan mempunyai postur duduk yang baik.

Saat duduk, kepala harus tegak, jangan doyong kanan atau kiri. Dari hidung ke pusar harus membentuk garis vertikal yang tegak, 90 derajat dengan lantai. Atau bayangkan di ubun-ubun anda ada tali. Saat tali di tarik ke atas maka tulang punggung anda akan tertata tegak lurus.

Kepala harus tegak. Kalau kepala tertunduk, anda cenderung mengantuk. Kalau kepala tengadah, anda cenderung punya lebih banyak pikiran acak.

Bukalah mata dalam 2 cara. Anda bisa membuka mata seperti biasa. Bisa juga kelopak mata dibiarkan menggantung bebas, agak menutup, tetapi masih ada celah dimana anda masih bisa melihat dengan pandangan sedikit ke bawah sekitar 45 derajat.

Jangan fokuskan pandangan ke apapun juga. Biarlah pandangan anda meluas, melihat semua yang ada. Memfokuskan pandangan pada sesuatu akan menimbulkan ketegangan. Dengan tidak fokus, akan terasa lebih relaks.
Dengan membuka mata namun tidak fokus pada apapun, anda akan lebih mudah mengendap dan tenang. Jika tidak terbiasa membuka mata seperti biasa, anda bisa sedikit menurunkan kelopak mata, namun jangan menutup mata dan jangan fokus pada apapun.

Saya percaya kebanyakan anda menutup mata. Bagaimana jika anda menutup mata?

Menutup mata, memang cenderung lebih relaks. Saya percaya hanya itulah keuntungan dari mata terpejam. Namun, karena mudah relaks, anda juga mudah tertidur. Jika pikiran mengembara dan keawasan melemah, kadang anda mengikuti pikiran mengembara itu dan bahkan sampai muncul ilusi.

Untuk membuka mata, anda butuh berlatih. Awalnya akan terasa tidak nyaman, tetapi latihan ini lebih kuat dan lebih jernih.

Tutup mulut anda, ujung lidah menempel ringan pada langit-langit, sedikit terpisah dengan gigi. Keuntungannya, jika anda duduk untuk waktu yang lama dan merasa haus, dengan ujung lidah menempel pada langit2 akan lebih mudah muncul air liur sehingga anda tidak merasa haus.

Tarik dagu anda kebelakang sedikit. Dengan menarik dagu sedikit ke belakang anda akan merasa sedikit regangan di tengkuk. Ini membuat pikiran lebih jernih.

Jangan naikkan bahu anda, juga jangan tekan bahu anda ke bawah. Sekadar letakkan bahu anda secara alami seperti tidak ada bahu di sana sehingga bahu anda relaks.

Lengan sedikit ada jarak dengan tubuh (ketiak sedikit terbuka). Jangan menempel ketat pada tubuh karena dalam jangka panjang akan terasa tegang. Ada orang yang membuka lengan lebar-lebar dan telapak tangan menggantung. Di awal, postur seperti itu terasa energik, tetapi dalam jangka panjang akan terasa tegang.

Ibu jari saling menempel ringan tetapi jangan runtuh ke bawah. Jika ibu jari tegak dan saling menempel ringan anda akan merasa lebih bersemangat, tetapi jika ibu jari turun sepertinya agak malas. Anda letakkan telapak tangan sehingga secara alami beristirahat di telapak kaki atau betis, tergantung bagaimana pada postur kaki anda.
Dada jangan di busungkan, namun agak melengkung. Posisi dada yang agak melengkung itu seperti posisi dada saat tangan anda membentuk lingkaran di depan dada.

Kendorkan perut, terutama di bagian abdomen.

Tulang leher harus satu garis dengan tulang belakang.

Untuk meluruskan tulang belakang, berusahalah duduk sangat tegak di awal. Kemudian lepaskan ketegangan otot di pinggang anda. Jangan ada tenaga di pinggang anda. Setelah anda melepaskan ketegangan otot itu, punggung anda akan sedikit membungkuk, tetapi itu tidak apa-apa. Itu karena, bentuk tulang belakang kita tidak lurus sekali, tetapi ada sedikit lengkungan ke dalam dan ke luar.

Kita berusaha untuk duduk dengan posisi yang betul sehingga aliran energi di tubuh menjadi lancar. Jika energi mengalir lancar maka pikiran menjadi lebih jernih.

Pantat duduk di bantal, tetapi tidak berikut pahanya. Letakkan pusat gravitasi di antara pantat dengan bantal. Jika kita banyak berpikir, maka pusat gravitasi akan naik ke atas sehingga kepala terasa berat. Jika anda duduk dan pusat gravitasi tidak berada di bawah dan juga tidak di kepala, cenderung mengambang di sekitar tubuh, maka tubuh kita cenderung bergerak-gerak. Kadang jika terlalu relaks tetapi pusat gravitasi tidak berada di bawah, kita akan merasa tubuh kita bergerak juga.

Untuk tubuh bagian bawah atau kaki, gunakan posisi yang anda rasa nyaman.

4. Menata Nafas

Kita relakskan tubuh kita dari kepala sampai ujung jari kaki, tahap demi tahap. Lakukan berulang-ulang sampai anda bisa merasakan nafas dengan mudah dan nafas menjadi alami. Jika anda bisa merasakan nafas namun nafas anda tidak alami, kembali lakukanlah relaksasi tubuh.

Dengan demikian, anda menata nafas dengan melakukan relaksasi. Setelah nafas mengalir dengan selaras, lembut, dan alami, anda menggunakan metode mengikuti nafas. Selanjutnya anda sampai pada tahap menata pikiran.

5. Menata Pikiran

Saat anda duduk dalam relaksasi dan pikiran anda mengembara, kembalikan. Setelah lebih relaks, anda mengikuti nafas. Bila pikiran anda mengembara lagi saat mengikuti nafas, kembalikan pikiran pada mengikuti nafas. Pada waktu itu berangsur-angsur anda menata pikiran, berangsur-angsur menjadi lebih fokus.

Tentu saja selama retret, kita menggunakan metode berbeda untuk situasi yang berbeda. Pikiran yang menyebar kita buat menjadi sederhana. Pikiran yang sederhana menjadi terkonsentrasi. Pikiran yang terkonsentrasi menjadi pikiran yang terpusat menyatu. Seluruh tahapan ini disebut menata pikiran.

Selesai

Tulisan ini adalah ringkasan dari tuntunan yang diberikan oleh Guo Yuan Fa Shi pada retreat di kaliurang Yogyakarta Oktober 2009. Di tulis oleh Robby Candra.

Posted in Buddhism | Tinggalkan komentar

Every breath is a new breath

Dalam setiap hal, selalu ada yang pertama kali, yang baru. Mendiang Master Sheng Yen dalam suatu retret mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan adalah yang pertama kali. Setiap nafas yang kita rasakan selalu berbeda. Karena berbeda, nafas selalu baru, selalu yang pertama. Jika kita berjalan, setiap langkah selalu langkah yang pertama, setiap langkah adalah langkah yang baru. Jika kita makan, setiap gigitan adalah gigitan yang baru, adalah gigitan yang pertama.

Apabila kita bisa menerapkan sikap ini dalam hidup sehari-hari, maka hidup kita menjadi benar-benar hidup. Akan tetapi, kita butuh berlatih. Oleh karena kita punya kebiasaan bersikap lengah, sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang menjadi terasa usang.

Saya menyarankan pada semuanya untuk mengambil sikap ini pada apapun yang kita lakukan, setidaknya selama retret ini.

Ada seorang wanita menghadap Master Sheng Yen dan berkata, “Shifu, saya merasa bosan.”
“Mengapa?” tanya Master Sheng Yen.
“Saya menggunakan metode menghitung nafas. Setiap saat saya menghitung nafas satu-dua-tiga dan seterusnya, terus menerus, selalu sama. Duduk di sini melakukan relaksasi dari kepala ke ujung jari kaki, kemudian dari kepala ke ujung jari kaki, berulang-ulang. Sungguh membosankan. Saya tidak ingin melakukannya lagi.”

Setelah itu, suatu ketika Master Sheng Yen ada di dapur dan wanita itu sedang menyiapkan shushi. Master Sheng Yen menegur, “Kamu suka menyiapkan shushi itu ya?”
“Ya, saya suka membuat shushi.”
Master Sheng Yen bertanya, “Apakah setiap shushi yang kamu buat itu selalu sama?”
“Tentu saja tidak, setiap shushi itu berbeda.”
“Betul, setiap shushi itu berbeda. Demikian pula dengan nafasmu, setiap nafas berbeda.”

Sejak itu sikap wanita itu berubah. Dia memahami bahwa setiap saat adalah berbeda, seperti shushi yang ia buat. Jika kita bisa mengambil sikap ini dalam semua yang kita lakukan, meskipun dilakukan berulang-ulang, kita akan melihat bahwa semuanya berbeda, semua adalah baru.

Bahkan perabot yang kita lihat, setiap saat juga berubah, setiap saat baru saja menjadi lebih tua (newly old). Gagasan ini sungguh sangat menyegarkan.

Guo Yuan Fashi, retret Kaliurang Yogyakarta, Oktober 2009.

Posted in Buddhism | Tinggalkan komentar

Teh yg baik diseduh di air yg panas (Sharing Retreat Balerejo 2)

Banyak orang merasa “ngeri” mendengar aturan disiplin yg ketat di Vihara Bodhigiri (dulu bernama Panti Semedi Balerejo). Disiplin di sana bukan main-main atau omong kosong. Kalau ada peserta retreat yang tidak serius, kerjanya ngobrol, Bhante selalu siap membukakan pintu gerbang. Kalau peserta tidak menyelesaikan target 15 jam, bhante akan tanya sebabnya. Jika sebabnya hanya lelah, ngantuk, atau hal2 sepele lainnya, peserta harus siap untuk dipulangkan, atau jika harus menunggu rombongan, peserta dipersilahkan tidur di hotel di Blitar saja.

“Di sini bukan tempat untuk berwisata!” kata bhante Uttamo.

Sebenarnya ada 2 macam pengunjung di Bodhigiri. Pengunjung yang datang untuk meditasi dan pengunjung yang datang untuk konsultasi. Bagi yang datang untuk konsultasi, bhante akan bersikap lunak selama tidak mengganggu peserta meditasi. Namun, kalau anda menyatakan datang untuk bermeditasi, maka anda harus berdisiplin atau pulang.

Memang ada retret yang menerapkan aturan lunak dan ada retret yang menerapkan aturan keras. Di banding retret yang lain, aturan di Bodhigiri ini cukup keras. Pertanyaannya adalah, “Apakah disiplin keras ini diperlukan?”

Saya pernah mendengar pepatah: “Berilah murid istimewa dengan latihan yang keras. Berilah murid biasa dengan latihan yang menyenangkan.” Latihan keras berbeda dengan penyiksaan diri. Latihan keras adalah penerapan disiplin yang keras namun tidak berbahaya. Jika kita menjalani retret, biasanya dua hari pertama adalah masa2 penuh penderitaan. Ego dan nafsu keinginan memberontak. Tubuh terasa sakit, ngantuk, pegal2. Pikiran lari kemana-mana. Akhirnya kita merasa sakit yang sudah tidak bisa anda tolak lagi. Bagaimanapun posisi tubuh kita, rasa sakit ini tetap ada. Kita berusaha mengarahkan pikiran untuk tenang, tetapi usaha itu terasa sia-sia.

Jika disiplin tetap dipatuhi, suatu ketika, nafsu dan pikiran akan menyerah. Akhirnya kita menerima kondisi itu apa adanya. Kondisi batin yang tidak lagi berontak ini menimbulkan suatu rasa damai yang tidak bisa digambarkan.

Tiba-tiba rasa sakit lenyap, pikiran anda menjadi lunak. Seperti kuda yang sudah jinak.

Jinaknya pikiran ini tidak dapat dicapai tanpa disiplin yang keras. Seperti kata pepatah:
– Jika anda lunak terhadap diri anda, kehidupan akan keras terhadap diri anda.
– Jika anda keras terhadap diri anda, kehidupan akan lunak terhadap diri anda.

Dengan pikiran yang jinak, semua tampak lebih jelas. Ketenangan dan keawasan menjadi kuat. Timbul pemahaman. Disamping itu, tubuh dan pikiran menjadi lebih relaks. Akibatnya tubuh membutuhkan lebih sedikit makan dan lebih sedikit tidur.

Tidak heran ada nenek2 berusia 70 tahun yang sanggup bermeditasi 15 jam sehari selama 78 hari. Bahkan ada peserta yang “lupa” makan dan tidur. Kondisi dilalui bukan karena penyiksaan diri tetapi karena ketenangan yang dibangun membuat tubuh ini bekerja sangat effisien sehingga kebutuhan tidur dan makan pun berkurang drastis.

Kondisi diatas hanya dicapai melalui latihan dengan disiplin yang keras. Tidak bisa diceritakan, sulit dipahami oleh mereka yang belum pernah mencoba. Dengan disiplin yang keras, bermeditasi selama 15 jam sehari bukan hal yang sulit. Sebaliknya jika kita tidak mendisiplinkan diri, meditasi 10 jam sehari pun sudah terasa sangat berat.

Beranikah Anda mencobanya?

Posted in Buddhism | Tinggalkan komentar

Sharing Retreat di Panti Semedi Balerejo

Retret ini adalah retret kelima, dan retret pertama saya dalam bimbingan Bhante Uttamo. Awalnya, saya tidak menganggap retret ini menjadi sebuah acara retret yang serius. Pertama karena saat berangkat badan saya kurang fit. Kedua karena teman2 dalam retret belum terbiasa dengan retret. Ketiga karena waktu retret hanya 3 hari. Keempat, saya belum mengenal sistem atau metode retret yang di pakai.

Akan tedapi, saya sangat ingin bertemu dengan Bhante Uttamo. Sudah ada 10 tahun lebih saya tidak berkunjung ke Balerejo.

Tanggal 26 nop 2009 saya bangun pukul 3 pagi karena diare. Sampai pukul 6 saya sudah 5 kali ke kamar kecil. Pukul 7 saya berangkat dari Temanggung bersama Pak Adi dan tiba di Yogyakarta pukul 9 dan mampir satu jam. Pukul 10.45 saya menjemput Mas Bram di Prambanan. Gara-gara perut kurang mendukung, selama perjalanan saya harus 3 kali berhenti di SPBU untuk ke kamar kecil. Pukul 7 malam saya sampai di Wihara Samaggi Jaya, makan malam dan mengikuti pujabakti bersama bhante Uttamo. Pukul 9 saya menuju ke Panti Semedi Balerejo Wlingi. Saya senang karena bhante ikut mobil saya sehingga bisa bercakap-cakap di perjalanan. Pukul 10 malam sampai di Balerejo, bhante Uttamo segera mengatur pembagian kamar tidur.

Lalu bhante memberi instruksi, “Besok kumpul di dharmasala pukul 6 pagi kurang 5 menit.”

Balerejo terletak di daerah pegunungan selatan berketinggian sekitar 550 meter. Pemandangan di sana sangat indah. Ada 3 kamar ukuran besar yg masing2 bisa menampung 10 orang, 14 kamar yg masing2 bisa menampung 1 orang. Di sekitar kamar kami, ada 1 dharmasala tertutup, kantor merangkap ruang konsultasi, dapur, ruang makan, 3 gazebo, 1 dharmasala terbuka. Di tempat yang agak terpisah, dekat area parkir, terdapat 20 pondok yang masing2 bisa menampung 1 orang, 1 ruang tertutup dan 1 gazebo terbuka.

Saya bangun pukul 4 pagi, melanjutkan diare 2 kali. Pukul 5 saya bermeditasi di dharmasala sambil menunggu bhante. Jam 6 kurang 5 persis, bhante datang dan segera memimpin puja bhakti. Kami membacakan Namakara Gatha, Vandana, Tisarana, Buddha-Dhamma-Sanghanussati, Saccakiriyagatha diikuti meditasi 30 menit. Sesudah itu bhante memberikan instruksi dan tanya jawab.

Bhante mengatakan bahwa peserta diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri tetapi harus menyelesaikan target berapa lama kami harus menjalani meditasi. Standard di balerejo, dalam sehari kami harus menyelesaikan 15 jam meditasi – jalan ataupun duduk. Khusus sesudah makan kami harus meditasi jalan. Standar 15 jam itu boleh di tempuh dalam beberapa kali meditasi. Satu kali meditasi idealnya 1 jam, tetapi minimal 30 menit. Untuk itu kami di beri timer, senter, buku notes kecil dan ballpoint untuk mencatat berapa lama kami sudah menjalani meditasi dalam sehari itu dan hal2 yang akan kami tanyakan pada bhante. Oleh karena kebanyakan peserta adalah pemula yg belum pernah retret dan beberapa belum pernah meditasi, bhante hanya meminta kami untuk menyelasikan 7 1/2 jam di hari pertama dan 10 1/2 jam di hari berikutnya. Meditasi bersama bhante selama setengah jam saat puja bhakti di pagi hari tidak di hitung.

Hari pertama kami di beri instruksi untuk menghitung nafas dari 1 sampai 5. Kami menghitung 1 saat masuk, 1 saat keluar, 2 saat masuk, 2 saat keluar dst. Hanya itu saja. Bhante sangat menekankan disiplin, semangat, dan ulet. Dalam meditasi kami tidak boleh bergerak sampai timer berbunyi, kecuali menegakkan punggung, menegakkan kepala, dan menelan ludah. Bhante mengatakan bahwa meditasi dimulai dengan mengendapkan tubuh sehingga relax dan tenang yang kemudian diikuti dengan pengendapan pikiran. Kalau tubuh selalu bergerak, pikiran tidak bisa tenang.

Kami tidak boleh bercakap-cakap selama retret. Makan hanya di sediakan satu kali pukul 11 pagi, tetapi kami bebas untuk makan.

Puja bhakti, instruksi meditasi dan tanya jawab di tutup pukul 9 dengan membacakan namakara gatha. Hari pertama saya lalui dengan badan loyo karena diare. Sampai saat itu kami semua belum makan pagi. Sampai makan siang saya mendapat 1 1/2 jam meditasi. Sesudah makan siang, saya meditasi lagi selama 2 1/2 jam. Kemudian saya jalan berputar-putar di sekitar vihara untuk survei lokasi. Saya menyelesaikan total 7 1/2 jam hari itu pada pukul 8 malam. Sesudahnya saya makan malam dan tidur.

Hari kedua saya bangun pukul 2.30 pagi. Badan saya terasa segar, diare sudah hilang. Saya dan mas Bram menyelesaikan total 3 jam meditasi sebelum pujabhakti. Puja bhakti selesai pukul 8.15. Hingga makan siang, saya dapat 5 1/2 jam. Hingga pukul 5.30 sore saya mencapai target 10 1/2 jam. Saya bermeditasi hingga pukul 8.30 dan mendapat 12 1/2 jam. Mas Bram mencapai 13 jam. Sebenarnya bhante menyarankan kami untuk mencapai 15 jam hari itu. Pikiran saya cukup tenang.

Hari ketiga, adalah hari terakhir. Saya bangun pukul 2.30. Pukul 3 sore saya mencapai 8 jam meditasi. Akan tetapi, saya mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan bhante dan saya memilih untuk melepas kangen dengan bhante. Pukul 6 sore saya melanjutkan meditasi dan menyelesaikan target 10 1/2 jam meditasi pada pukul 9 malam.

Karena pukul 3 hingga pukul 6 saya bercakap dengan bhante, sesudahnya saya tidak lagi bisa memelihara ketenangan. Ini menjadi pelajaran berharga.

Kalau hari kedua rekornya adalah 13 jam. Hari terakhir ada 4 orang yang menyelesaikan 15 jam. Mas Bram menyelesaikan target 15 jam pada pukul 11.30. Ada peserta yang selesai pukul 2 malam. Teman saya Enge (Dhian Dewi) tidak tidur. Jatah 15 jam diselesaikannya sekitar pukul 5.30 pagi.

Hari keempat, saya bangun pukul 3 pagi dan bermeditasi di dharmasala sendirian. Timer saya matikan karena sudah tidak ada target. Pagi itu badan terasa segar dan saya sangat menikmati meditasi seorang diri. Puja bhakti dan tanya jawab hari itu sangat meriah dan berakhir hingga pukul 9. Lalu kami berbenah dan makan siang. Setelah peserta lain pulang, selesai makan siang, saya, Bram dan Adi Mulyawan Sri Kuning bercakap-cakap dengan bhante hingga pukul 2 siang lalu kami kembali ke Temanggung.

Retret adalah sebuah keajaiban. Selalu ada hal baru yang saya dapat di setiap retret. Di retret kali ini saya belajar bahwa meditasi butuh disiplin, semangat, dan keuletan. Saya melihat betapa pola dan sikap hidup sangat berpengaruh pada pencapaian ketenangan dalam meditasi. Saya belajar bagaimana ketenangan bisa terbangun dengan baik dalam suasana disiplin meditasi yang ketat.

Untuk mencapai target standard 15 jam di Balerejo, peserta hanya bisa tidur maksimal 4 jam. Kalau kita bangun pukul 2.30, kita akan dapat 3 pertama jam sebelum pujabhakti. 3 jam kedua antara pujabhakti dan makan. 3 jam ketiga hingga istirahat mandi pukul 3 sore. Setelah mandi kita dapat 3 jam keempat hingga pukul 7 malam. Kalau anda makan malam, 3 jam terakhir diselesaikan antara pukul 8 hingga pukul 11 malam. Tidur dari jam 11 hingga jam 2.30. Tidak ada waktu untuk beristirahat di luar meditasi.

Retret di Panti Semedi Balerejo adalah sebuah sarana sekaligus tantangan bagi peserta yang serius.

Posted in Buddhism | Tinggalkan komentar