Riwayat Singkat
Pertengahan bulan Juni 1967 di sebuah kota kecil, Pangkalpinang, di pulau Bangka, aku dilahirkan di sebuah rumah yang sangat sederhana, di sebuah rumah kontrakkan, yang berukuran sekitar 4 m x 10 m. Aku masih mengingat kondisi rumah yang pernah aku tempati sewaktu masih kecil itu. Lantai ruang tamu dan menuju kamar udah di floor dengan semen, namun ruangan dapurnya masih berlantaikan tanah liat, sehingga bila hari hujan, air hujan yang menembus atap ruangan dapur yang masih beratapkan pelepah daun pohon rumbia ( sejenis pohon kelapa ) akan membuat becek lantai dapur rumahku.
Kondisi atap rumahku tidak semuanya terdiri dari bahan genteng, hanya di bagian depan rumah saja, sedangkan dapurnya masih beratapkan daun rumbia. Dan dengan berdinding rumah dari papan. Yah, begitulah kondisi rumah sederhana yang hanya mampu kami huni pada masa itu. Dan karena pernah mengalami masa masa sulit seperti inilah maka aku tidak pernah membedakan pergaulan dengan orang kaya ataukah dengan orang dari keluarga sederhana. Namun, aku merasakan suasana yang bahagia pada masa itu. Perasaan kekeluargaan para warga kampung membuatku bebas bermain dengan para tetangga.
Namun ada satu hal yang pernah di ucapkan oleh mamaku yang masih aku ingat, yaitu, aku suka mendengar lagu-lagu yang diperdengarkan lewat radio di rumah tetangga sampai terkadang ketiduran di depan rumahnya. Lucu, begitulah polahku waktu berumur beberapa tahun sampai dengan berumur sekitar 4 tahun.
Akhirnya aku pindah ke rumah yang di beli oleh papaku, yang menjadi rumah keluarga sampai sekarang. Rumahku yang sekarang cukup luas dibanding dengan rumah kontrakkan, sekitar 8 m x 40 m, namun sekarang tanah kosong belakang rumah juga sudah dibeli papaku, yang mungkin total luas rumahku sekarang sekitar 750 m2. Yah papaku seorang pekerja yang ulet, namun sesungguhnya jarang orang yang tahu kalau sebenarnya beban ekonomi keluarga menyebabkan papaku mengalami kesulitan untuk menamatkan SD nya. Yah, kakekku hanya seorang nelayan, dan bertempat tinggal dekat pantai, nenekku sudah meninggal sejak papaku masih kecil. Namun bagi seseorang yang pernah menjadi anak jalanan dan tidak lulus SD kemudian menjadi seorang pedagang dan pemborong yang berhasil, itu bukanlah suatu prestasi yang mudah di capai. Namun dalam kesehariannya, papaku sangatlah sederhana. Setiap hari hanya berkendaraan motor ke toko, hanya sesekali memakai mobil bila ada kepentingan.
Dan hampir setiap hari papaku memakai kemeja warna putih polos dengan celana panjang warna gelap. Dalam kesehariannya, orangnya pendiam, jarang bicara kalau dirasa kurang perlu. Dan kebiasaan papaku berlangsung terus sampai beliau menutup mata tgl 22 Nopember 2005. Itu yang berkesan buatku. Dan kesederhanaan papaku sangat menjiwai hidupku dimasa selanjutnya.
Rumahku yang baru ini masih satu kampung dengan rumah kontrakkan, berjarak beberapa ratus meter. Kepindahanku ke rumah baru, dirayakan dengan suatu pesta kecil dengan para tetangga. Namun ada satu kejadian yang mengusik kebahagiaan pesta itu. Itu semua karena ulahku. Pada suasana pesta itu, aku mencari taperecorder, karena aku lagi mau mendengar lagu. Dan ku lihat tape itu ada diatas lemari pajangan, yang berpintu kaca yang digeser. Aku dorong meja mendekati lemari tsb dan naik keatas meja untuk menjangkau tape nya. Namun naas, badanku limbung sebelum berhasil mencapai tape tsb sehingga jatuh menabrak kaca lemari tsb sehingga kaca lemari itu pecah berantakan, lutut ku sobek, sehingga malam itu mesti langsung dijahit. Aku masih ingat bagaimana aku meronta-ronta dan dipegang sekitar 6 atau 7 orang pada saat lututku di jahit di RS.
Di rumah yang baru ini, aku mempunyai teman baru, para tetangga, yang di antaranya adalah teman sekolahku. Aku sekolah di Budi Mulia, dari TK hingga SMP. Waktu itu sekolahku mempunyai ke-khas-an dalam hal siswanya yaitu, hanya menerima murid putera saja, sehingga pada saat TK dan SD aku tidak pernah se kelas dengan murid puteri. Semuanya putera, dan tentu saja kalau jam istirahat, kami bermain lari-larian dan bahkan terkadang main tawuran, namun semua hanya sebatas jam istirahat saja, dan sesudah lonceng masuk kelas, kami menjadi teman lagi seperti biasa. Pembauran dengan murid puteri baru terjadi ketika aku menginjakkan kakiku di SMP, namun masih sedikit, karena baru beberapa orang. Mungkin saat ini, setelah beberapa puluh tahun berselang, jumlah siswa putera dan puteri nya sudah berimbang.
Kecintaanku pada musik dan lagu, menyebabkanku sering mengamati lagu-lagu yang sering ku dengar. Aku sering mengamati harmonisasi nada lagu tsb. Dan dari hasil pengamatanku, ternyata alunan melodi tertentu akan membuat perasaan tertentu bagi yang mendengar, dan tentu saja dengan syair yang senada dengan irama lagu. Era tahun 1970-an muncul penyanyi anak Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Ira Maya Sopha dll. Untuk groupband nya ada Koes Bersaudara kemudian menjadi Koes Plus, The Mercys, Panbers, Black Brothers, Deloyd dll. Dan untuk group vokal luar negeri, aku suka Boney M dan ABBA. Dan ditahun 1980an muncul Obbie Messakh, Rinto Harahap, Pance, Ebiet, Iwan Fals dll.
Pada masa kecilku, sewaktu di SD, aku sudah mencoba menggubah alunan lagu sambil membayangkan kalau seandainya aku membuat lagu maka iramanya harus begini dan begitu. Ehmmm, sungguh lamunan yang cukup indah pada masa itu. Dan itu semua terus berlanjut sampai dengan SMP. Namun pada masa itu aku masih belum bisa sama sekali memainkan satu alat musik pun. Dan pada suatu ketika pada ujian akhir kesenian, aku terpaksa belajar memainkan gitar, karena bila ujian akhir kesenian diisi dengan bernyanyi sambil bermain gitar, maka akan menjadi nilai tambah buat siswanya. Jadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu sebelum hari H waktu ujian, aku setiap hari berlatih gitar dengan cara bertanya pada teman yang sudah pintar. Sungguh, jari tangan kiriku merasakan suatu rasa nyeri sampai agak kebiruan, karena setiap hari mencoba memencet senar gitar. Pada saat ujian, aku mencoba maju dengan menggunakan gitar untuk mengiringi laguku yang berjudul Desaku. Tapi apa mau dikata, ternyata permainan gitarku masih kacau, sehingga guruku menyuruhku untuk bernyanyi saja dengan diiringi gitar guruku.
Namun masih aja suaraku terasa fals dan tidak bisa mengikuti alunan gitar guruku. Dan akhirnya guruku menyuruhku bernyanyi saja tanpa diiringi gitarnya. Yahh, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk belajar gitar, apadaya kemampuanku cuman sampai segitu. Tapi setelah ujian SMP, aku tetap terkadang melanjutkan belajar gitar secara otodidak, dan sesekali bertanya dengan teman yang sudah mahir, soal kunci dari lagu, sambil membayangkan suatu ketika aku bisa bermain gitar dengan baik.
Prestasiku selama di SD dan SMP cukup membanggakan, biarpun tidak sampai ranking 1 namun hampir selalu masuk 3 besar dan yang terbaik adalah juara 2 kelas. Untuk nilai yang tertinggi adalah nilai matematika, yaitu 9 di ijazah. Yah, sebenarnya aku suka hitung hitungan, namun aku juga suka suatu imajinasi. Dan buku cerita favoritku waktu SD, pengarangnya adalah HC Handersen disamping cerita pahlawan super hero, misalnya gundala, superman, dll dan saat SMP dengan pengarang Enyd Blyton dengan serial Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga dll.
Tahun 1983, aku hijrah ke Yogya, melanjutkan SMA ku di SMA BOPKRI I, belakang RS Bethesda. Itu kulakukan karena mengikuti saran walikelasku, pak Hadi ( beberapa tahun yang lalu sudah meninggal dunia ). Pak Hadi dengan murid murid kelasnya mempunyai ikatan batin yang cukup dalam. Dia menganggap kami semua muridnya adalah anaknya. Satu persatu kami di anjurkan untuk sekolah di luar kota, termasuk aku dengan alasan supaya kami menjadi anak yang mandiri. Dan lucunya lagi, kebanyakan muridnya mengikuti saran pak Hadi, yang kami anggap orangtua sendiri. Dan sesampai di Yogya, pak Hadi mengirimkan surat kepadaku dan teman sekamarku, yang juga teman sekelasku waktu SMP, yang isinya bila masih mau mengakui beliau sebagai orangtua, maka kami harus kursus matematika atau kursus bahasa Inggris. Akhirnya aku dan temanku memilih kursus bahasa Inggris dengan seorang guru yang pernah tinggal di Australia. Dan selepas SMA temanku langsung melanjutkan sekolahnya ke Australia sedangkan aku ke Universitas Tarumanagara di Jakarta.
Selama SMA, aku menggandrungi novel misteri karya karya V Lestari. Disamping cerita silat karya Khu Lung ataupun Asmaraman S Khoo Ping Ho. Membaca cerita silat sebenarnya adalah hobiku sejak SD. Kalau sudah keasyikan membaca, maka akan terasa lupa waktu, terkadang kebablasan sampai subuh.
Di Yogya, hobi musikku aku lanjutkan. Secara tak sengaja ada teman kos membawa gitar tua, dan aku coba memetik gitar lagi. Dan kemudian menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajan untuk membeli satu gitar sendiri. Dan aku mulai mencoba menggubah lagu. Tahun 1985, aku membuat lagu mars kelasku yang berjudul Pujana ( Putut Jaya Prana ) yang artinya murid jaya yang mempesona. Suatu kebanggaan buatku. Setiap kali acara kelasku, laguku selalu dinyanyikan. Dan akhir desember 1985 aku ikut retret dengan gereja Kristen Kalam Kudus di Kaliurang, yang mana aku mengiringi mereka bernyanyi beberapa hari. Lumayan buat pengisi liburan dan hobi dan umat gereja pada tahu kalau aku hanya simpatisan saja, sebagai penggembira dan bukan beragama Kristen. Sewaktu di Yogya aku sering ikut kegiatan keagamaan baik Kristen, Katolik ataupun Kong Hu Cu. Karena sering ikut kegiatan keagamaan lain, maka aku jadi tahu lagu lagu mereka. Namun agama Buddha tak pernah aku ikutin sampai dengan lulus SMA.
Ajaran Buddha agak asing bagiku. Sewaktu aku kecil, aku tak pernah mempelajarinya, karena Ajaran Buddha belum masuk ke pulau Bangka, dan agama Buddha tidak ada di lingkunganku. Teman-temanku waktu SD dan SMP banyak beragama Katolik, karena aku bersekolah di Budi Mulia, suatu Yayasan Katolik. Sedangkan SMA, banyak beragama Kristen karena sekolahku bernaung di Yayasan Kristen. Waktu itu temanku tak ada satupun yang beragama Buddha. Namun ada satu hal yang menurutku sedikit agak menarik yaitu, mamaku menukar namaku dari nama yang lama menjadi nama yang baru yaitu Fuo Kuang (Sinar Buddha). Itu terjadi karena aku sering sakit sakitan, mamaku mendengar saran salah seorang di klenteng di Bangka waktu aku masih kecil. Dan memang setelah itu aku menjadi tidak terlalu sering sakit lagi. Oh yah, waktu itu di Bangka yang ada hanya klenteng, belum ada vihara seperti sekarang ini. Nama itu masih ku pakai sampai sekarang, biarpun itu adalah suatu nama yang aneh dan tidak pernah dipakai di negeri China, kata orang China waktu aku berkunjung ke sana.
Aku mulai mempelajari agama Buddha, ketika aku kuliah di Universitas Tarumanagara tahun 1986, suatu mata kuliah agama pilihan selain Kristen, Katolik dan Islam. Awalnya aku tidak begitu familiar, namun setelah dipelajari, ternyata akhirnya aku merasa cocok, karena banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya pada masa lalu, kini aku mulai mendapat jawabannya. Yah, pilihan agama yang kita anut tergantung kecocokan kita, itu menurutku. Kemudian aku diajak ke Dharmayana (suatu organisasi mahasiswa Buddhis Untar) oleh temanku yang aku kenal saat plonco yang bernama Parsan. Parsan mengetahui aku bisa membuat lagu karena dia satu kelompok denganku di malam api unggun Perkemahan Fakultas Ekonomi yang diadakan di Cipelang, Sukabumi tahun 1986, dimana waktu itu kelompokku menyanyikan lagu yang baru aku ciptakan untuk acara malam api unggun tsb.
Lagu Buddhis Pertama
Di Dharmayana aku langsung membuat lagu Buddhis. Lagu Buddhis yang pertama berjudul Dhamma Sang Buddha yang aku ciptakan tahun 1986 itu juga, kemudian lagu kedua di tahun yang sama berjudul The Life Of Buddha. Pada awalnya proses penciptaan lagunya, aku banyak bertanya tentang syair lagu dengan teman yang sudah beragama Buddha duluan. Maklum, pengetahuanku tentang ajaran Buddha waktu itu masih sangat minim. Itulah awalku terjun dalam dunia lagu lagu Buddhis.
Saat itu, hampir setiap hari aku mampir di Dharmayana, berkumpul dengan teman teman kampus dan bernyanyi. Angan-anganku waktu itu adalah laguku bisa dinyanyikan dan semoga juga bisa ditayangkan di TV. Pada mulanya, aku berusaha untuk membuat musik untuk laguku, karena kalau diiringi dengan gitar saja, akan terdengar sederhana. Karena keterbatasan dana waktu itu, jadi aku belum mampu membayar seorang arranger. Aku pernah coba menggubah lagu dengan menggunakan musik minus one yang sudah ada yang dijual dalam bentuk kaset. Dari lagu yang sudah ada, aku coba buat lagu baru dengan alunan nada baru dengan musik lagu lain. Tapi jadinya bagus juga, karena seharusnya itu adalah lagu baru biarpun kuncinya sama. Lagu itu dinyanyikan oleh seorang penyanyi Dharmayana yang bernama Vivi di malam acara Inaugurasi fakultas Tehnik.
Waktupun kian berlalu. Aku mulai mendedikasikan hidupku untuk kepentingan lagu-lagu Buddhis. Satu per satu lagu aku ciptakan. Dan lagu-laguku mulai di nyanyikan di kebaktian agama Buddha di Untar. Anak-anak Dharmayana menulis syair laguku di kertas lagu dan di fotocopy untuk dinyanyikan waktu kebaktian. Laguku yang paling populer pada masa itu adalah berjudul Sang Bhagava yang aku ciptakan pada bulan agustus 1990. Kemudian lahirlah lagu Sang Guru dan Hadirkan Cinta tahun 1995.
Di tahun 1991 aku mendapat kesempatan rekaman di Musica Studio, setelah menjadi finalis lomba cipta lagu Buddhis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh KMBJ (Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta) yang akhirnya laguku mendapat juara II. Dari situlah awalku masuk dunia rekaman berlanjut.
Saat liburan tahun 1991, aku dan teman kampus Untar, yang tergabung dalam Dharmayana, berkesempatan mengikuti athasila dipimpin oleh Bhante Sujivo (sekarang sudah lepas jubah).
Di samping hobiku dalam lagu-lagu Buddhis, aku bekerja di bidang akunting sesuai dengan disiplin ilmu yang aku pelajari di Untar yaitu Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Dan dari hasil kerjaku, selanjutnya aku membiayai kuliahku sendiri. Awalnya aku bekerja di salah satu konsultan pajak sebagai auditor tahun1989, kemudian di akhir tahun 1989, aku pindah sebagai Chief Accounting di salah satu perusahaan perdagangan. Selanjutnya beberapa kali pindah, terakhir tahun 1995 di perusahaan Jepang sebagai Chief Accounting. Setelah perusahaannya tutup akhir tahun 1995, aku membuka usaha sendiri sebagai konsultan pajak dan sebagai supplier dengan berkantor di dekat jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Dan tahun 1997, aku membuka kantor di jalan mangga besar hingga tahun 1998 (hanya setahun, ditutup tidak lama setelah kerusuhan). Selanjutnya aku berkantor di rumah dekat jalan gajahmada.
Aku mulai mencoba menyisihkan penghasilanku untuk membiayai rekamanku sendiri.
Album pertamaku berbentuk kaset di realease waisak tahun 1997, dengan judul album Sang Guru.
Mungkin ada yang bertanya bagaimana aku menjaga kelangsungan produksi album album Buddhisku yang nota bene awalnya bukanlah profit centre. Yah, aku membiayai semuanya dari penghasilanku pada kerjaanku sebagai konsultan pajak. Untuk itu aku mempertaruhkan semua penghasilanku. Tindakan bodoh, kata sebagian besar orang. Tapi, hasilnya, aku sungguh puas, karena ternyata bisa berkesinambungan. Aku merasa semua perjuangan dan pengorbananku tidak sia sia. Lagu Buddhis yang aku ciptakan sering ku dengar bergema dimana mana, baik di vihara vihara, ataupun di rumah dan di mobil. Bahkan sekarang sudah menjadi nada sambung pribadi di HP.
Album Sang Guru adalah album pertama produksiku yang berlebel Joky Music Production. Karena awalnya masih belum tahu bagaimana sambutannya, maka aku berikhtiar dalam hati, bila albumku diterima di hati para pendengar lagu Buddhis, maka aku akan meneruskan perjuanganku, dan bila tidak diterima maka aku akan berhenti di album ini saja. Ternyata kenyataannya, albumku diterima.
Dari album Sang Guru yang fenomenal, karena mendapat sambutan yang cukup baik dari para pencinta lagu Buddhis, dan akupun mulai terus membuat album album berikutnya.
Ada terselip satu cerita bergenre misteri dari awal perjalanan keluarnya lagu Sang Guru, yaitu cerita yang disampaikan oleh seorang teman yang bernama Liwei (salah seorang pengasuh sekolah minggu di Vihara Dhammacakka waktu itu). Tidak berapa bulan dari masa keluarnya album Sang Guru, di satu siang, Liwei menghubungiku dan menceritakan satu kisah. Ceritanya, salah seorang temannya barusan menghubunginya untuk bertanya tentang apakah Liwei mengetahui suatu lagu yang mendadak bisa dinyanyikannya namun tidak di ketahui judulnya. Kepada Liwei, temannya bercerita bahwa semalam dia bermimpi bertemu dengan seorang anak perempuan kecil berambut ikal dan berkulit agak gelap pada saat sedang menunggu bus, dan anak perempuan tersebut duduk di sebelahnya dan tak jauh dari mereka duduk juga seorang nenek tua. Anak perempuan tersebut meminta tolong kepada temannya Liwei untuk mengajarinya sebuah lagu, dan temannya Liwei mengajarkan lagu yang berjudul Sang Guru, yang bisa dinyanyikannya dengan lengkap syairnya, padahal menurut dia, lagu tsb belum begitu dipahami, karena dia bukanlah seorang pencinta lagu Buddhis, bahkan bila ada yang menyetel lagu Buddhis di dekatnya, maka suara lagu tsb di kecilkannya. Ketika terbangun, dia langsung bisa hapal akan lagu itu, baik irama lagu maupun syairnya. Namun semakin siang syairnya mulai lupa.
Nah pada saat itulah dia mulai menghubungi beberapa temannya untuk menanyakan perihal lagu yang dianggapnya misteri itu. Nah sampai siangnya, dia tersambung dengan Liwei, dan Liwei menjelaskannya kalau dia tahu lagunya dan mengenalku juga sebagai penciptanya. Namun orang tsb berpesan pada Liwei agar identitasnya tidak dibocorkan. Dan menurut Liwei, mulai hari itu, temannya tsb pasti menyetel lagu Sang Guru setiap pagi sebelum berangkat kerja, dan di kantornyapun menyetel lagu Sang Guru juga, karena bos nya ternyata seorang Buddhis. Akupun kemudian mencoba mencari tahu bagaimana kejadian ini bisa terjadi, dimana seseorang secara mendadak mampu menyanyikan lagu yang sebelumnya tidak dihapalkannya. Salah seorang Bhante kemudian menjawab, bahwa mungkin saja ada Dewa yang menyukai laguku.
Album album lainnya mulai ku buat. Semuanya dalam bentuk kaset. Satu persatu keluarlah Album Jataka Kelinci, Album Bhante Giri, Album Tiga Permata, Album Sujud Bagi Sang Guru dlsb dan sampai tahun 2009 ini mungkin sudah lebih dari 70 album baik kaset, CD maupun VCD yang di produksi.
Dan mulai tahun 1999, aku coba membuat VCD Karaoke Sang Guru, yang mengambil lokasi shooting dibanyak tempat dan banyak negara. Hal itu aku lakukan agar produksi lagu rohani Buddha yang notabene adalah masih berumur sangat muda keberadaannya di Indonesia, namun ada yang bisa dibanggakan bila dibandingkan dengan produksi rohani lain. VCD Sang Guru adalah proyek yang cukup lama dan memakan biaya yang cukup besar karena mengambil lokasi shooting di China (Beijing, Guang Zhou, Shen Zen), Hongkong, Thailand (Bangkok), Singapura, Malaysia (Kuala Lumpur) dan Indonesia(Jakarta, Batam, Bandung, Bangka). Dan di realease pada tahun 2000 dan merupakan VCD karaoke rohani Buddhis pertama di Indonesia (namun rekor MURI belum populer waktu itu, jadi tidak didaftarkan, hehe…). Dan kesuksesan juga mengiringi perjalanan VCD ini.
Setelah selesai pembuatan VCD Sang Guru, kejenuhan mulai menghinggapi diriku. Serasa aku sudah harus mundur dari pecaturan dunia seni ini. Namun selalu saja ada sosok yang mendampingiku di tengah jenuhku, yaitu dari seseorang yang kadang baru kukenal, memberiku support moril agar aku terus berkarya. Biasanya kejenuhan ini seperti skala yang rutin, akan menghinggapiku beberapa tahun sekali.
Tahun 2002, Januari, aku mencoba membeli peralatan studio sendiri yang sederhana, dan menempatkannya di salah satu tempat yang disewa di belakang Stasiun KA Beos Kota. Beberapa bulan kemudian, aku memindahkan studioku di Ruko Willtop, di jalan Pangeran Jayakarta. Semua ini ku lakukan agar bisa lebih konsentrasi dan lebih lancar serta dengan harapan biaya produksi bisa lebih di tekan, karena sudah memiliki studio sendiri. Memang, setelah itu, aku lebih produktif. Produksi CD mulai juga di buat. Dan disamping itu umat Buddha banyak juga yang menggunakan fasilitas studioku untuk keperluan rekamannya.
Beberapa tahun studio ku di ruko Willtop, aku cukup produktif, kaset, CD dan VCD terus ku produksi, namun semakin kedepan, era kaset mulai perlahan-lahan menghilang. Dan untuk masa sekarang, aku cuman memproduksi CD dan VCD.
Selama masa ini, aku mulai berhubungan lagi dengan teman teman kampusku yang sudah lama tidak pernah ketemu, dan semua ini karena buah manis dari hasil pembuatan lagu lagu rohaniku, sehingga keberadaanku agak gampang di ketahui. Dan aku banyak menjalin hubungan baik dengan beberapa orang, bahkan serasa adalah keluarga sendiri.
Keberadaan studioku di ruko Willtop sampai agustus 2005, dan studio kupindahkan di rumah peninggalan orangtuaku yang kosong, yang dulu dibeli dengan harga hanya beberapa juta dan aku tidak tidak begitu pasti lagi kapan tahun pembeliannya. Dan disamping itu aku juga membuat satu studio di Bangka. Akupun menetap di Bangka dengan sesekali tinggal di Jakarta.
22 Nopember 2005, papaku menutup mata selamanya, dan meninggalkan satu kenangan yang mendalam buatku. Aku merasa masih banyak harapan papaku yang belum bisa aku penuhi. Dan dengan segala kerendahan hati aku mendoakan papa terlahir dialam bahagia. Sekarang tinggal seorang mama yang memilih hidup sendiri, di sebuah rumah sederhana di Bangka.
Aku mulai merenovasi rumahku di Bangka dan mulai mengaktifkan studioku. Album daerah Bangka dan rohani Buddha tetap kubuat di studioku yang berlokasi di komplek pergudanganku yang tak jauh dari rumahku di Pangkalpinang, Bangka, yang berarea kuranglebih 1700 m2. Aku memakai salah satu gudang tersebut untuk kujadikan studio. Sekitar akhir tahun 2006, ketika aku sedang berdiri di depan rumah, mengawasi tukang yang masih membereskan kerjaannya dan waktu saat itu menunjukkan pukul 7 malam, seseorang yang berdomisili di jakarta, dan belum kukenal menghubungi hp ku. Sebenarnya telpon dari seseorang yang beragama Buddha di Indonesia walaupun belum ku kenal kerap ku terima, biasanya mereka ngobrol soal lagu Buddhis. Namun kali ini orang yang belum kukenal ini ingin bertemu. Baiklah…, kataku kemudian.
Aku ke jakarta hari sabtu, 10 Februari tahun 2007 siang hari, aku menghubungi orang tsb dan aku di jemput di airport.
Ternyata pertemuanku dengan orang ini merubah perjalanan hidupku. Dia menyarankanku untuk kembali ke jakarta dan berdomisili di jakarta. Jakarta adalah tempatku. Begitulah kira kira inti dari ucapannya.
Aku menyetujuinya. Aku mulai berbenah lagi, memindahkan studioku yang di Bangka dan dari rumah peninggalan orangtuaku yang di dekat jalan Gajahmada, untuk selanjutnya berdomisili di Pluit, di tempatku yang sekarang.
Lembaran baruku di Jakarta dimulai lagi. Studioku di Pluit, Jakarta, dirayakan pembukaannya pada pertengahan bulan Mei 2007. Produksi CD dan VCD di mulai lagi.
Dengan lebel JKC Production, aku mulai menapaki kancah dunia rekaman kembali.
Terkadang aku mendapat pertanyaan, bagaimana proses ku mencipta lagu, sehingga bisa terlahir lagu lagu yang seperti sekarang ini ?
Semua lagu rohani Buddhisku tercipta dari dasar hati, dari hasil pengamatan, dari yang telah didengar dan dilihat, dan juga adalah ungkapan perasaan yang ingin disampaikan.
Dan inilah sekelumit contoh proses penciptaan dua dari lagu laguku yaitu Sang guru dan hadirkan Cinta.
Pertengahan tahun 1995, aku berkunjung ke vihara Mahavira Graha di Lodan Ancol, berbincang bincang dengan Suhu Prajnavira sekitar jam 4 sore selama 1 jam, tentang Sang Buddha dan Moggalana, aku sangat berkesan sekali. Aku diajak mengelilingi viharanya yang lama (sekarang sudah menjadi vihara baru yang megah) yang banyak terdapat foto foto Buddha dan menjelaskannya satu persatu. Sekitar jam 6 sore sesampainya di rumah, aku mulai mengambil gitar dan menulis syair yang ingin aku ungkapkan serta mulai merangkai irama lagu, jadilah lagu Sang Guru malam itu sekitar 2 jam kemudian.
Tahun 1995 banyak kejadian demo. Terkadang juga diselingi dengan kerusuhan. Sebenarnya mengapa semua ini bisa terjadi ? Dan bila aku melewati jalan Hayam Wuruk dan jalan Gajahmada pada malam hari, maka akan mendapati pemandangan banyak orang berpakaian rapi keluar masuk tempat hiburan malam. Mencari hiburan…, untuk kesenangan… ? Yah, pasti kira kira begitulah jawaban dari mulut mereka bila ditanya, dan kemudian timbul pertanyaan lagi, untuk tujuan akhir apa ? Maka mulailah aku menulis lagu Hadirkan Cinta.
Coba simak syair lagunya. Pernahkah kita renungi, tentang arah langkah dalam hidup ini, pancarkanlah cinta kasih di lubuk hati, agar bahagia terjadi. Ini adalah pertanyaan dan pernyataanku setelah mengamati semua yang terjadi. Sesungguhnya yang kita cari adalah kebahagiaan yang hakiki bukan kesenangan yang bersifat sementara.
Sadarlah hai manusia, berpedoman yang benar agar bahagia, tebarkanlah cintakasih pada sesama, agar bahagia dunia. Disini aku mencoba memberikan satu solusi agar bahagia, yaitu dengan berpedoman hidup yang benar, pedoman yang mampu mengarahkan kita ke jalan menuju terlepasnya kemelekatan dunia dan mencapai kebahagiaan sejati.
Terkadang hati kita pun terpana, menatap kemilau dunia. Aku coba mengungkapkan dari sisi manusia pada umumnya yang begitu terpana akan keglamoran harta dunia, kecantikan dan keindahan fisik, hal yang umum sebagai manusia menurutku.
Terkadang hati kitapun meronta, rasakan palsunya dunia. Di syair ini aku mencoba mewakili orang orang yang merasa terzalimi yang tidak bisa mendapatkan harapan harapan yang diharapkan, maka timbullah demo dsb. Hadirkan cinta, satukan rasa di dada, pancarkan kasih pada sesama, bahagialah semesta, Solusinya adalah kita harus menghadirkan cinta kita bagi semua makhluk dan bagi dunia. Cinta sejati yang gampang di ucapkan namun terkadang agak rancu untuk diartikan. Cinta sejati adalah cinta yang indah yang tidak mempunyai ego, tidak ada aku dan melebur bersama semesta.
Jauhkan diri, dari amarah di hati, agar seluruh alam berseri, menyambut indahnya dunia ini. Kita sepertinya harus benar benar melepaskan baju keakuan kita, dengan tidak adanya aku maka, sifat seperti marah karena tersinggung, sombong karena pintar,terkenal, kaya atau tampan maupun cantik, dapat kita hindari dan tak perlu terjadi, karena sesungguhnya bila kita sadari, semua itu tidak kekal. Dan kitapun dapat mulai merasakan keindahan dunia yang hakiki.
Cerita diatas adalah dua contoh dari proses pembuatan lagu Buddhisku. Demikian juga dengan lagu lagu lainnya yang penciptaannya berproses dari dasar hati.
Ehhmmm, hari ini 9 April 2009, hari pesta demokrasi di Indonesia, Pemilu.
Dan aku mesti mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bhante Bodhi yang merayakan ulang tahunnya hari ini, karena kemarin Bhante Bodhi sudah menghubungiku via hp dan mengundangku datang ke Vihara Buddhametta di Jalan Terusan Lembang, Menteng.
Aku baru saja menyelesaikan 2 album CD ku yang baru yaitu CD Candani dan CD Yovi, masih ada beberapa CD dan VCD yang masih menunggu untuk diselesaikan. Dan juga ada buku yang mesti ditulis, yaitu Buku yang berisi Kumpulan 100 Lagu Lagu karya Joky. Total lagu yang pernah ku tulis sampai dengan saat ini april 2009 berjumlah 100 lagu lebih. Sekitar 100 lagu adalah lagu rohani Buddha dan sisanya adalah lagu umum beraliran pop maupun dangdut.
Hari masih pagi, dan aku coba menyetel TV yang berisikan berita tentang pemilu.
Dan masih ada kabar duka yang terakhir ini yang banyak menyita perhatian rakyat Indonesia yaitu tentang bencana di Situ Gintung yang memakan korban sekitar 100 jiwa serta juga bencana gempa bumi di Italia yang sampai hari ini sudah tercatat korban 250 jiwa. Kematian, selalu datang dengan tak terduga. Tak ada yang tahu kapan napas kita akan berhenti, untuk kembali bersatu dengan semesta. Dan bila saat itu tibapun, tak ada yang kita akan bawa, tidak badan kita karena badan kita akan hancur , tidak juga harta kita. Yang tersisa adalah ingatan orang yang masih hidup tentang catatan sejarah hidup kita, apakah berwarna putih, keemasan ataukah kelam. Bila seandainya kita sadar, bahwa sebenarnya aku ini tidak ada, maka mengapa masih ada kesombongan dan untuk siapakah kesombongan itu
Aku lagi mencoba mengingat apa saja yang mesti aku sampaikan sekarang. Yah aku ingat, aku mesti menyampaikan terimakasih bagi orang orang yang membuat perubahan positif dan mendukungku selama ini.
Orang orang yang memberikan kasihnya kepadaku selama ini :
Pertama tentu saja papa dan mamaku. Kasih orangtua sungguh besar, tak terbalaskan, menyayangiku dari kecil, tanpa bisa terbalaskan. Tiada kasih yang lebih besar di dunia ini bisa melebihi kasih dari orangtua. Memberikan ilmu dengan menyekolahkanku sehingga bisa melangsungkan kehidupan dengan indah dan memberikan keteduhan dan kehangatan dengan sebuah rumah.
Enam orang adik adikku, yang menemani perjalanan hidupku.
Kemudian adalah pak Hadi. Engkau bukan saja guru sewaktu aku di SD dan SMP bagiku, tapi juga orangtua kedua. Tanpa arahanmu, tahun 1983 aku tidak mungkin bersekolah di Yogya.
Haryanto, teman baikku di SMA semasa di Yogya, yang kini tidak tahu keberadaannya, karena hilang komunikasi. Yang sering membawaku ke Gereja Kristen Kalam Kudus dan mengajakku retret akhir tahun 1985 di kaliurang
Para saudaraku dan saudara angkatku di jalan Cimanuk, Tanah Abang 2, Cideng Barat, tempat aku berdomisili pada pertengahan tahun1986, awal aku menetap di jakarta selama setengah tahun, saat rumah orangtuaku yang di gajahmada masih di renovasi. Kalian sungguh baik. Keramahan kalian selalu berada dalam hatiku.
Sahabat sahabat Dharmayana, Universitas Tarumanagara, kekompakan yang tiada akhir, karena biarpun sudah lama berpisah, setiap berjumpa selalu timbul kekangenan.
KMBJ, organisasi Buddhis yang membawaku rekaman pertama kali tahun 1991.
Mantan Bhante Vijito, sekarang berganti nama menjadi Pujianto, yang ku kenal sejak masih samanera, anda adalah sahabat, tempat aku berdiskusi tentang Dhamma tahun 1990an hingga tahun 2000an, namun jalan kebikkhuan telah ditinggalkan. Yah, doaku, apapun jalan yang diambil, jalanilah dengan penuh tanggung jawab.
Meicen, anak Dharmayana, tahun 1991 yang mengenalkanku kepada Meicie Widjaja, yang menjadi penyanyiku, dan mengenalkanku juga kepada Ibu Hartati Murdaya tahun 1994, sehingga aku mendapat kesempatan rekaman di studionya di Tebet di tahun yang sama.
Ibu Hartati Murdaya, sosok fenomenal, namun banyak kebaikan yang telah dilakukannya. Dukungan moril yang pernah diberikan kepadaku sepanjang tahun 1990an, sungguh merupakan energi yang indah buatku untuk tetap eksis di dunia seni Buddhis.
Ayya Santini, figur yang meneduhkan hati bila berbicara, aku mengenalnya sejak masih menjadi Meicie. Selalu sabar menjawab pertanyaanku yang masih sangat awam soal Dhamma, dan pernah juga memberikan usulan syair untuk dibuatkan lagu, yaitu lagu Dhammacakkapavatana Sutta pada akhir tahun 2001.
Pak Chandra, pemilik Toko Media Chandra, di Roksi Mas, sengaja ataupun tidak sengaja, dukungan anda kepadaku sungguh merupakan sebuah kekuatan yang indah yang mampu untuk membawaku melewati masa penuh rintangan pada tahun 2000an awal sampai dengan tahun 2004.
Mas Wandito (Bursa Dhammacakka Sunter), Ahok (Bursa Ekayana) dan distributor serta agen produksiku yang lain. Kalian pendukung setiaku, karena selalu menampung hasil produksi rekamanku.
Kartono atau dikenal dengan nama Awit dan isterinya Meiliana, sahabat dan saudara bagiku, karena memberiku tempat untuk studioku di di jalan Pangeran Jayakarta. Dan menganggapku sebagai saudaranya sampai sekarang.
Dr Evy beserta papa dan mamanya (Pak Mediarto dan Bu Shita), yang memberikan tempat untuk alat studioku tahun 2005 di ruko glodok, karena kepindahan studioku. Sori banyak merepotkan, dan sampai sekarang sudah seperti keluarga bagiku.
Dr Ernawati, adik angkatku yang ku kenal sejak kuliah di Untar, yang menjadi dokter pribadiku, hehe sori banyak merepotkan, karena ternyata aku sering sakit. Pengalaman yang tak terlupakan ketika aku mengalami sakit komplikasi yaitu Demam Berdarah, Tipus dan Liver, dengan kondisi pembuluh darah di hidungku pecah. Kejadian itu terjadi saat hari waisak pertengahan tahun 2006. Untung ada bu dokter Erna dan suaminya yang menampungku di rumahnya dan merawatku hingga sembuh.
Ismail beserta Bu KT, sosok yang menghubungi hp ku akhir tahun 2006 dan mengajakku kembali ke jakarta hingga saat ini. Yang menganggapku sebagai saudara, dan selalu mendukungku.
Para Bhante dan Suhu yang saya hormati yang tak dapat saya sebutkan satu persatu. Kalian guru guru Dhamma saya di dunia ini.
Johnny Djaliman (adik Ismail), Annie (pemain piano), Nawawi (adik ipar Ismail), kalian juga sahabatku.
Dan tak lupa semua pencipta lagu, penyanyi dan pemusikku di studioku. Kalian juga pendukungku yang sejati. Kalian adalah bagian dari keberhasilan dari jerih payahku.
Serta juga semua pencinta lagu Buddhis dimanapun berada di bumi ini. Sukses untuk anda semua, BBU all……
Kegiatan kegiatan yang kerap kujalani selama ini, adalah menjadi juri lomba nyanyi di banyak tempat dan kota di Indonesia dari tahun 1990an sampai sekarang baik untuk tingkat daerah maupun nasional.
Alamat sekarang:
Ruko Grand Pluit Mall Blok B No.3-4
Jl.Pluit Selatan Raya-Pluit
Jakarta Utara-Indonesia
Website: Http://www.jokyproduction.com