Magandiya Sutta
[Magandiya menawarkan putrinya kepada Buddha; Buddha menjawab:]
“Ketika melihat [putri-putri Mara] — Ketidakpuasan, Keinginan, dan Nafsu –
sama sekali tidak muncul keinginan terhadap seks.
Lalu, apa yang aku inginkan dari mereka
yang penuh dengan air kencing dan kotoran?
Saya bahkan tidak mau menyentuhnya dengan kakiku.”
Magandiya:
“Jika Anda tidak menghendaki permata wanita ini,
yang diinginkan oleh raja-raja,
lalu pandangan, etika, latihan, kehidupan, masa depan apa
yang Anda dalihkan?”
Buddha:
‘Saya berdalih begini’,
Kedamaian batin tidak muncul pada diri seseorang yang melekat pada doktrin
Saya melihat kedamaian batin
pada diri seseorang yang tidak melekat pada pandangan,
Magandiya:
“Sang Arif, Anda bicara tentang
tanpa kemelekatan pada suatu penilaian yang sudah ada.
Apakah artinya ‘Kedamaian batin’ ini?
Bagaimana seorang yang tercerahkan mejelaskan hal ini?”
Sang Buddha:
“Ia tidak bicara tentang kemurnian seseorang dalam kaitan dengan
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.
Tidak juga melalui tidak adanya
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.
Melepaskan semuanya, tanpa melekat, damai, bebas,
ia tidak mendambakan kelahiran kembali.”
Magandiya:
“Jika ia tidak bicara tentang kemurnian seseorang dalam kaitan dengan
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.
Tidak juga melalui tidak adanya
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.
Maka bagi saya tampaknya ajaran ini membingungkan,
oleh karena sementara orang beranggapan bahwa kemurnian
dalam kaitan –melalui– suatu pandangan.”
Sang Buddha:
Dengan Mengajukan pertanyaan dengan bergantung pada pandangan,
Anda dibingungkan oleh apa yang Anda lekati.
Oleh karena itu sedikit pun Anda tidak melihat apa yang saya katakan.
maka Anda berpikir bahwa Itu membingungkan.
Barang siapa berpikir ’sama’, ‘lebih tinggi’, atau ‘lebih rendah’,
dengan itulah ia berdebat;
Sedangkan bagi orang yang tak terpengaruh oleh tiga hal ini,
’sama’, ‘lebih tinggi’, atau ‘leibh rendah’, tidaklah ada.
Dengan siapa seorang brahmana akan berdebat ‘benar’ atau ’salah’,
Jika seseorang tidak lagi berpikir ’sama’ atau ‘tidak sama’
Setelah meninggalkan rumah, hidup bebas dari masyarakat,
seorang pertapa tidak mencari kawan di desa-desa.
Bebas dari nafsu indra, bebas dari pendambaan,
ia tidak akan berdebat dengan orang memperebutkan kalah-menang.
Hal-hal duniawi tidak dilekatinya lagi
ia mengembara di dunia:
Sang Maha Agung tidak akan mengambil dan memperdebatkannya.
Seperti bunga teratai berduri tidak ternoda oleh air & lumpur,
begitulah seorang pertapa, pendukung kedamaian, tanpa keserakahan,
tidak ternoda oleh nafsu indra dan dunia.
Sang pencapai kearifan tidak mengukur, bangga dengan
dengan pandangan-pandangan atau apa yang dipikirkan,
oleh karena ia tidak terbentuk dari itu.
Ia tidak dituntun oleh perbuatan, pembelajaran;
tidak menarik kesimpulan dalam kotak-kotak perdebatan.
Bagi dia yang tidak tertarik pada persepsi, tidak ada lagi ikatan;
bagi dia yang bebas karena kebijaksanaan, tidak ada lagi ilusi.
Mereka yang melekat pada persepsi dan pandangan,
berjalan di dunia ini dengan selalu terantuk kepalanya.”


