<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hati Yang Damai</title>
	<atom:link href="http://hatiyangdamai.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com</link>
	<description>Ajaran Buddha dan Spiritualitas</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Feb 2009 13:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hatiyangdamai.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8a9d38800e3507ec8a64268c55f13a60?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hati Yang Damai</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Cinta, Kedamaian, Pencerahan &#8211; Gede Prama</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/11/09/cinta-kedamaian-pencerahan-gede-prama/</link>
		<comments>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/11/09/cinta-kedamaian-pencerahan-gede-prama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 04:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robby Candra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[Kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatiyangdamai.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi, demokrasi, kapitalisme, dan feminimisme hanya sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat, lalu menerjang ke seluruh dunia.
Siapa saja yang rajin ke Barat di abadi ke-21 boleh bertanya, &#8220;what is your religion?&#8221; Dan siap-siaplah di jawab, &#8220;Stupid question&#8221;. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=123&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi, demokrasi, kapitalisme, dan feminimisme hanya sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat, lalu menerjang ke seluruh dunia.</p>
<p>Siapa saja yang rajin ke Barat di abadi ke-21 boleh bertanya, &#8220;<em>what is your religion?</em>&#8221; Dan siap-siaplah di jawab, <em>&#8220;Stupid question&#8221;</em>. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne pernah bertanya kepada mahasiswanya di kelas, <em>&#8220;any one of you who have religion?&#8221;. </em>Yang menaikkan tangan hanya segelintir. Itupun semua berwajah Asia.</p>
<p>Dari salah satu segi terlihat, agama di Barat lebih dipandang sebagai beban ketimbang identitas yang membahagiakan. Pada saat yang sama, ada kecenderungan lain yang layak direnungkan.</p>
<p><span id="more-123"></span>Karen Amstrong &#8211; penulis buku <em>History of God &#8211; </em>menulis, inilah zaman keemasan Buddha di Barat. Albert Einstein &#8211; fisikawan besar abad ke-20 &#8211; berpendapat agama yang beisa memenuhi kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha. Lama Surya Das &#8211; penulis <em>Awekening to the Sacred</em> &#8211; menjumpai sejumlah anak muda di Barat yang mengaku, <em>my parent hate me when they know that I am a Buddhist, but they love me when they know that I am a Buddha</em>. Orang tua kesal melihat putrinya masuk wihara. Namun mereka cinta saat menyadari anaknya sabar, santun, penuh rasa hormat, dan rendah hati.</p>
<h2>Dahaga akan kedamaian</h2>
<p>Digabung menjadi satu, ada pintu kecenderungan yang terbuka. Di satu sisi ada rasa dahaga manusia akan kedamaian. Terutama karena materialisme di Barat sudah menunjukkan batas-batasnya. Di sisi lain, agama Buddha menyentuh komunistas Barat dengan kedamaian.</p>
<p>Membaca tanda-tanda seperti ini, tantangan agama-agama sebenarnya bukan persaingan antar agama. Raja Asoka, murid Buddha, mewariskan, &#8220;siapa yang menghina agama orang, ia sedang mencaci agamanya sendiri&#8221;. Tantangan agama ke depan adalah memuaskan rasa dahaga manusia akan kedamaian.</p>
<p><strong>Tanpa kemampuan memuaskan dahaga akan kedamaian, lebih-lebih memperpanjang daftar kekerasan yang panjang, bukan tidak mungkin ada agama mengalami kepunahan di masa depan.</strong></p>
<h2>Bahasa-bahasa cinta</h2>
<p>Kalau boleh jujur, semua agama berbahasakan cinta. Islam menempatkan cinta di urutan pertama dalam 99 nama Allah. Kristen mengalami dinamika dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, tetapi cinta kasih tidak bergeser sama sekali. Yoga Hindu tidak bisa sempurna tanpa <em>bhakti yoga</em> <em>(path of love and devotion).</em> Rumah batin luhur Buddha mulai dengan cinta kasih.</p>
<p>Dalam ketokohan juga serupa. Islam bersinar di tangan manusia seperti Jalaludin Rumi, Imam Al-Ghazalli yang tidak punya bahasa selain cinta. Ajaran Kristus menyentuh di tangan orang seperti Santo Fransiskus dari Asisi yang digerakkan kasih. Di tangan Mahatma Gandhi, <em>Bhagawad Gita</em> hidup. Tidak ada kekuatan lain yang membantau Gandhi terkecuali bakti. Saat Dalai Lama ditanya pengertian Tuhan, ia menjawab, &#8220;<em>God is an infinite compassion</em>. Teduh, menyentuh itulah wajah asli agama-agama.</p>
<p>Namun, kerap ini dihadang keingintahuan yang membandingkan wacana dengan realitas. Bila demikian, mengapa ada serangan teroris, Pemerintah AS dan kawan-kawan menyerang Afganistan dan Irak, rezin militer Myanmar menembaki biksu, masyarakat Bali yang tekun berupacara melakukan sejumlah kekerasan?</p>
<h2>Latihan sebagai langkah</h2>
<p>Meminjam cerita Zen, setiap kata hanya jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha digabung dengan Krishna pun tidak bisa mengantar manusia menemukan pencerahan, terutama bila hanya sebatas dimengerti lalu lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama latihan.</p>
<p>Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang bernai membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. <strong>Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.</strong></p>
<p>Thich Nhat Hanh dalam <em>Creating true peace</em> lebih konkret soal latihan. Dalam diri kita ada bibit kedamaian sekaligus kemarahan. Perjalanan latihan bergerak kian sempurna, saat manusia dalam keseharian menyirami bibit kedamaian, berhenti menyirami bibit kemarahan. Cara terbaik melakukan ini dengan mempraktikkan kesadaran (<em>mindfulness</em>).</p>
<p>Dalam aktivitas apa pun &#8211; bangun, makan, bekerja, sampai tidur lagi &#8211; lakukanlah dengan penuh kesadaran. Bila kemarahan datang, senyumlah sambil ingat tidak mengikuti kehendak kemarahan. Saat kedamaian yang berkunjung, senyumlah sambil sadar jika kedamaian pasti pergi, tidak perlu kecewa.</p>
<p>Bila digoda orang menjengkelkan, berfokuslah pada api amarah di dalam. Lihat senyum, jangan diikuti. Bila ini tidak membantu, ganti judul orang menjengkelkan dengan orang yang membutuhkan cinta. Sebab bila judulnya menjengkelkan respons alaminya marah. Jika judulnya memerlukan cinta kita, respon alaminya membantu.</p>
<p>Teruslah berlatih sampai tidak ada lagi yang tersisa &#8211; kemarahan menghilang, kedamaian menghilang &#8211; kecuali kesadaran agung. Kadang disebut kesempurnaan agung karena semua sempurna apa adanya. Dan yang terlhat orang lain di luar adalah keseharian yang diam, senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu.</p>
<p>Dibimbing cinta manusia bertemu keteduhan, kesejukan kedamaian. Kedamaian membuka pintu pencerahan. Ada yang bertanya, apa itu pencerahan? Seperti berlatih naik sepeda. Teorinya sederhana. <strong>Namun, begitu berlatih dijamin jatuh.</strong> Ada yang masuk selokan. Ada juga kakinya berdarah. Hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan keseimbangan (baca: kesadaran agung). Dan momen saat kesadaran agung dialami, ia akan berujar, ooo!</p>
<p>Itulah pencerahan. Ia diluar kata-kata. Bila ada yang mau menjelaskan dengan kata-kata, nasibnya akan serupa dengan tangan manusia yang mau mengambil seluruh air samudra</p>
<p>Gede Prama, Kompas 1 Desember 2007</p>
 Tagged: buddha, Cinta, Gede Prama, Kedamaian, Pencerahan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatiyangdamai.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatiyangdamai.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatiyangdamai.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatiyangdamai.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatiyangdamai.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatiyangdamai.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatiyangdamai.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatiyangdamai.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatiyangdamai.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatiyangdamai.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=123&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/11/09/cinta-kedamaian-pencerahan-gede-prama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e4c3589746e052b7d1096b5cc1e9f20?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">Robby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nur dari Timur &#8211; Gede Prama</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/10/24/nur-dari-timur-gede-prama/</link>
		<comments>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/10/24/nur-dari-timur-gede-prama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 12:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robby Candra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatiyangdamai.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Ia yang pernah hidup di Barat, tahu kalau berbicara itu amat penting. Dibandingkan kehidupan di Timur, lebih banyak hal di Barat yang diekspresikan dengan kata-kata. Fight, argue, dan complain, itulah ciri-ciri manusia yang disebut “hidup” di Barat. Tanpa perlawanan, tanpa adu argumentasi, orang dianggap “tidak hidup” di Barat. Intinya, melawan itu kuat, diam itu lemah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=115&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="BodyTeks"><a href="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/11/gedeprama.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-134" title="gedeprama" src="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/11/gedeprama.jpg?w=192&#038;h=256" alt="gedeprama" width="192" height="256" /></a>Ia yang pernah hidup di Barat, tahu kalau berbicara itu amat penting. Dibandingkan kehidupan di Timur, lebih banyak hal di Barat yang diekspresikan dengan kata-kata. <em>Fight</em>, <em>argue</em>, dan <em>complain</em>, itulah ciri-ciri manusia yang disebut “hidup” di Barat. Tanpa perlawanan, tanpa adu argumentasi, orang dianggap “tidak hidup” di Barat. Intinya, melawan itu kuat, diam itu lemah, melawan itu cerdas, dan pasrah itu tolol.</p>
<p class="BodyTeks">Dengan latar belakang berbeda, pola hidup ala Barat ini menyebar cepat melalui televisi, internet, radio, media, dan lainnya. Dengan bungkus seksi demokrasi, hak asasi manusia, semua dibawa ke Timur sehingga dalam banyak keadaan (angka bunuh diri naik di Jepang, Thailand mengalami guncangan politik, Pakistan ditandai pembunuhan politik), banyak manusia di Timur mengalami kebingungan roh Timur dengan baju Barat.<span id="more-115"></span></p>
<p class="BodyTeks">Perhatikan kehidupan desa sebagai barometer. Tanpa banyak berdebat siapa yang akan menjadi presiden, ke mana arah masa depan, partai apa yang akan menang. Di desa yang banyak burungnya, tetapi manusianya banyak nonton televisi (sebagai catatan, realita di desa amat sederhana, tontonan di televisi amat menggoda), tema hidup setiap pagi adalah “burung menyanyi, manusia mencaci”.</p>
<h1>Berhenti melawan</h1>
<p class="BodyTeks">Bayangkan seseorang yang tidak bisa berenang lalu tercebur ke sungai yang dalam. Pertama-tama ia melawan. Setelah itu tubuhnya tenggelam. Karena tidak bisa bernapas, meninggallah ia. Anehnya, setelah meninggal tubuhnya mengapung di permukaan air. Dan alasan utama mengapa tubuh manusia meninggal kemudian mengapung adalah karena ia berhenti melawan.</p>
<p class="BodyTeks">Ini memberi inspirasi, mengapa banyak manusia tenggelam (baca: stres, depresi, banyak penyakit, konflik, perang) karena terus melawan. Yang menjadi guru ingin jadi kepala sekolah. Orang biasa ingin jadi presiden. Pegawai ingin cepat kaya seperti pengusaha. Intinya, menolak kehidupan hari ini agar diganti kehidupan yang lebih ideal kemudian. Tidak ada yang melarang seseorang jadi presiden atau pengusaha, hanya alam mengajarkan, semua ada sifat alaminya. Seperti burung sifat alaminya terbang, serigala berlari, dan ikan berenang.</p>
<p class="BodyTeks">Suatu hari konon binantang iri dengan manusia karena memiliki sekolah. Tak mau kalah, lalu didirikan sekolah berenang dengan gurunya ikan, sekolah terbang gurunya burung, sekolah berlari gurunya serigala. Setelah mencoba bertahun-tahun semua binatang kelelahan. Di puncak kelelahan, baru sadar kalau masing-masing memiliki sifat alami. Dalam bahasa tetua di Jawa, puncak pencarian bertemu saat seseorang mulai tahu diri.</p>
<h1>Meditasi tanpa perlawanan</h1>
<p class="BodyTeks">Nyaris semua manusia begitu berhadapan dengan persoalan, penderitaan langsung beraksi ingin menyingkirkannya. Bosan lalu cari makan. Jenuh kemudian cari hiburan. Sakit lalu buru-buru ingin melenyapkannya dengan obat. Inilah bentuk nyata dari hidup yang melawan sehingga berlaku rumus sejumlah psikolog <em>what you resist persist</em>. Apa saja yang dilawan akan bertahan. Ini yang menerangkan mengapa sejumlah kehidupan tidak pernah keluar dari terowongan kegelapan karena terus melawan.</p>
<p class="BodyTeks">Berbeda dengan hidup kebanyakan orang yang penuh perlawanan, di jalan meditasi manusia diajari agar tidak melawan. Mengenali tanpa mengadili. Melihat tanpa mengotak-ngotakkan. Mendengar tanpa menghakimi. Bosan, sakit ,sehat, senang, dan sedih semua dicoba dikenali tanpa diadili. Ia yang rajin berlatih mengenal tanpa mengadili, suatu hari akan mengerti.</p>
<p class="BodyTeks">Dalam bahasa Inggris, mengerti berarti <em>understanding</em>, bila dibalik menjadi <em>standing under</em>. Seperti kaki meja, kendati berat menahan, ia akan berdiri tegak menahan meja. Demikian juga dengan meditator. Persoalan tidak buru-buru dienyahkan, penderitaan tidak cepat disebut sebagai hukuman, tetapi dengan tekun ditahan, dikenali, dan dipelajari. Setelah itu terbuka rahasianya, ternyata keakuan adalah akar semua penderitaan. Semakin besar keakuan semakin besar penderitaan, semakin kecil keakuan semakin kecil persoalan. Keakuan ini yang suka melawan.</p>
<p class="BodyTeks">Indahnya, sebagaimana dialami banyak <em>meditation master</em>, saat permasalahan, penderitaan sering dimengerti dalam-dalam sampai ke akar-akarnya, diterangi dengan cahaya kesadaran melalui praktik meditasi, ia lalu lenyap. Ini mungkin penyebab mengapa Charlotte JokoBeck dalam <em>Nothing Special</em> menulis, <em>“Sitting is not about being blissful or happy, It’s about finally seeing that there is no real difference between listening to a dove and listening to somebody criticizing us”.</em> Inilah berkah spiritual meditasi. Tidak ada perbedaan antara mendengar merpati bernyanyi dan mendengar orang mencaci. Keduanya hanya didengar. Yang bagus tak menimbulkan kesombongan. Yang jelek tak menjadi bahan kemarahan. Pujian berhenti menjadi hulunya kecongkakan. Makian berhenti menjadi ibunya permusuhan.</p>
<p class="BodyTeks">Saat melihat hanya melihat. Ketika mendengar hanya mendengar. Perasaan suka-tidak suka berhenti menyabotase kejernihan dan kedamaian. Meminjam lirik lagu Bob Marley dalam <em>Three little birds: don’t worry about the things, every single thing would be allright</em>. Tidak usah khawatir, semua sudah, sedang, dan akan berjalan baik. Burung tak sekolah, tak mengenal kecerdasan, tetapi terhidupi rapi oleh alam, apalagi manusia. Inilah meditasi tanpa perlawanan. Paham melalui praktik (bukan dengan intelek) jika keakuan akar kesengsaraan. Begitu kegelapan keakuan diterangi kesadaran, ia lenyap. Tidak ada yang perlu dilawan.</p>
<p class="BodyTeks">Seorang guru yang telah sampai di sini berbisik: <em>the opposite of injustice is not justice, but compassion.</em> Selama ketidakadilan bertempur dengan keadilan, selama itu juga kehidupan mengalami keruntuhan. Hanya saling mengasihi yang bisa mengakhiri keruntuhan. Sejumlah sahabat di Barat yang sudah membadankan kesempurnaan meditasi seperti ini kerap menyebut ini dengan Nur dari Timur. Cahaya penerang dari Timur di tengah pekatnya kegelapan, kemarahan, kebencian, ketidakpuasan, dan kebodohan. Seperti listrik bercahaya karena memadukan positif-negatif, meditasi hanya perpaduan kesadaran-kelembutan, membuat batin bisa menerangi diri sendiri.</p>
<p class="BodyTeks" style="text-align:right;">GEDE PRAMA, Kompas 18 Okt 2008 hal. 6</p>
 Tagged: buddha, Gede Prama, Meditasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatiyangdamai.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatiyangdamai.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatiyangdamai.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatiyangdamai.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatiyangdamai.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatiyangdamai.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatiyangdamai.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatiyangdamai.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatiyangdamai.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatiyangdamai.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=115&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/10/24/nur-dari-timur-gede-prama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e4c3589746e052b7d1096b5cc1e9f20?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">Robby</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/11/gedeprama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gedeprama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Fourteen Precepts of Engaged Buddhism</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/11/the-fourteen-precepts-of-engaged-buddhism/</link>
		<comments>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/11/the-fourteen-precepts-of-engaged-buddhism/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 04:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robby Candra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Engaged Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[Thich Nhat Hanh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatiyangdamai.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[1
Jangan mengidolakan atau terikat pada suatu doktrin, teori, atau idiologi, termasuk ajaran Buddha. Cara pandangan buddhis adalah alat penuntun, bukan kebenaran yang mutlak.
2
Jangan berpendapat bahwa pengetahuan yang anda miliki sekarang adalah kebenaran yang mutlak dan tidak akan berubah. Hindari pemikiran yang sempit dan terikat pada pandangan yang sekarang dianut. Belajar dan berlatih untuk tidak melekat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=74&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/09/thich_nhat_hanh.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-75" title="thich_nhat_hanh" src="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/09/thich_nhat_hanh.jpg?w=194&#038;h=252" alt="" width="194" height="252" /></a>1<br />
Jangan mengidolakan atau terikat pada suatu doktrin, teori, atau idiologi, termasuk ajaran Buddha. Cara pandangan buddhis adalah alat penuntun, bukan kebenaran yang mutlak.</p>
<p>2<br />
Jangan berpendapat bahwa pengetahuan yang anda miliki sekarang adalah kebenaran yang mutlak dan tidak akan berubah. Hindari pemikiran yang sempit dan terikat pada pandangan yang sekarang dianut. Belajar dan berlatih untuk tidak melekat pada pandangan agar bisa menerima sudut pandang orang lain. Kebenaran ditemukan dalam hidup dan bukan pada sekedar konsep. Bersiaplah untuk senantiasa belajar sepanjang hidupmu dan mengamati realita dalam dirimu dan dunia. <span id="more-74"></span></p>
<p>3<br />
Jangan memaksa orang lain, termasuk anak-anak dengan cara apapun, untuk menganut pandangan anda, apakah melalui kekuasaan, paksaan, uang, propaganda, atau bahkan pendidikan. Namun, melalui dialog yang penuh cinta kasih, bantu orang lain untuk meninggalkan sifat fanatik dan pikiran yang sempit.</p>
<p>4<br />
Jangan menghindari penderitaan atau menutup mata pada penderitaan. Jangan kehilangan kesadaran akan adanya penderitaan dalam kehidupan di dunia. Carilah jalan untuk bertemu dengan mereka yang menderita, termasuk kontak pribadi, kunjungan, melalui hubungan visual dan dan suara. Dengan cara itu, bangunkan kesadaran diri anda dan orang lain akan realita penderitaan di dunia.</p>
<p>5<br />
Jangan menimbun kekayaan bila ada berjuta-juta orang menderita. Jangan menjadikan kemasyuran, keuntungan, kekayaan, atau kenikmatan sensual sebagai tujuan hidup. Hiduplah sederhana dan berbagilah waktu, semangat, dan materi dengan mereka yang membutuhkan.</p>
<p>6<br />
Jangan memendam kemarahan dan kebencian. Belajarlah untuk meredakan dan mengubahnya selagi masih berupa benih dalam kesadaranmu. Segera setelah kebencian muncul, pindahkan perhatian pada nafas untuk melihat dan memahami sifat alaminya.</p>
<p>7<br />
Jangan terlarut pada suasana di sekitar anda. Letakkan perhatian pada nafas untuk kembali menyadari apa yang terjadi pada saat ini. Tetaplah berhubungan pada apa yang menakjubkan, menyegarkan, dan menyehatkan baik di dalam diri anda dan sekitar anda. Tanamlah benih, kebahagiaan, kedamaian, dan penuh pengertian dalam dirimu agar transformasi bisa bekerja pada kesadaranmu yang dalam.</p>
<p>8<br />
Jangan mengucapkan kata-kata yang bisa menimbulkan perselisihan dan menyebabkan perpecahan. Buat segala usaha untuk mendamaikan dan menyelesaikan semua konflik, sekecil apapun.</p>
<p>9<br />
Jangan berkata hal yang tidak benar demi keuntungan pribadi atau untuk mempengaruhi orang. Jangan mengucapkan kata-kata yang menyebakan perpecahan dan kebencian. Jangan menyebarkan berita yang tidak pasti kebenarannya. Jangan mengkritik atau menyalahkan sesuatu yang anda tidak yakin kebenarannya. Selalu berkata benar dan membangun. Punyailah keberanian untuk mengutarakan tentang ketidakadilan, meskipun bisa membahayakan diri anda.</p>
<p>10<br />
Jangan menggunakan komunitas buddhis untuk keuntungan pribadi, atau mengubah komunitas anda menjadi partai politik. Meskipun demikian, komunitas religius harus punya pendirian tegas menentang penindasan dan ketidakadilan dan harus berjuang untuk mengubah keadaan tanpa terlibat dalam konflik kelompok.</p>
<p>11<br />
Jangan hidup dengan pekerjaan yang membahayakan manusia atau alam. Jangan berinvestasi dalam perusahaan yang menghilangkan kesempatan hidup orang lain. Pilih pekerjaan yang mendukung realisasi ideologi cinta kasih anda.</p>
<p>12<br />
Jangan membunuh. Jangan biarkan orang lain membunuh. Carilah cara untuk melindungi kehidupan dan mencegah peperangan.</p>
<p>13<br />
Jangan mengambil hak orang lain. Hargailah kekayaan orang lain, tetapi cegah orang lain mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain atau mahluk lain di dunia.</p>
<p>14<br />
Jangan perlakukan tubuh dengan cara yang salah. Belajar untuk menghargainya. Jangan memandang tubuh ini hanya sebagai alat. Peliharalah energi vital untuk merealisasikan Jalan. (Untuk umat awam) jangan melakukan hubungan seksual tanpa cinta dan komitmen. Dalam hubungan seksual, sadarlah akan penderitaan di masa depan yang bisa timbul. Untuk menjagakebahagiaan orang lain, hargai hak dan komitmen orang lain. Sadarlah sepenuhnya akan tanggung jawab saat membawa kehidupan baru di dunia. Renungkan dalam dunia mana anda membawa kehidupan baru itu.</p>
<p>From the book &#8216;Interbeing&#8217;: Fourteen Guidelines for Engaged Buddhism, revised edition: Oct. l993 by Thich Nhat Hanh, published by Parallax Press, Berkeley, California</p>
<p>dari <a href="http://buddhism.kalachakranet.org/resources/14_precepts.html">http://buddhism.kalachakranet.org/resources/14_precepts.html</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatiyangdamai.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatiyangdamai.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatiyangdamai.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatiyangdamai.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatiyangdamai.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatiyangdamai.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=74&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/11/the-fourteen-precepts-of-engaged-buddhism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e4c3589746e052b7d1096b5cc1e9f20?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">Robby</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hatiyangdamai.files.wordpress.com/2008/09/thich_nhat_hanh.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thich_nhat_hanh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Magandiya Sutta</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/magandiya-sutta/</link>
		<comments>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/magandiya-sutta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 18:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robby Candra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sutra]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Kedamaian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatiyangdamai.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[[Magandiya menawarkan putrinya kepada Buddha; Buddha menjawab:]
&#8220;Ketika melihat [putri-putri Mara] &#8212; Ketidakpuasan, Keinginan, dan Nafsu &#8211;
sama sekali tidak muncul keinginan terhadap seks.
Lalu, apa yang aku inginkan dari mereka
yang penuh dengan air kencing dan kotoran?
Saya bahkan tidak mau menyentuhnya dengan kakiku.&#8221;
Magandiya:
&#8220;Jika Anda tidak menghendaki permata wanita ini,
yang diinginkan oleh raja-raja,
lalu pandangan, etika, latihan, kehidupan, masa depan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=18&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>[Magandiya menawarkan putrinya kepada Buddha; Buddha menjawab:]<br />
&#8220;Ketika melihat [putri-putri Mara] &#8212; Ketidakpuasan, Keinginan, dan Nafsu &#8211;<br />
sama sekali tidak muncul keinginan terhadap seks.<br />
Lalu, apa yang aku inginkan dari mereka<br />
yang penuh dengan air kencing dan kotoran?<br />
Saya bahkan tidak mau menyentuhnya dengan kakiku.&#8221;</p>
<p>Magandiya:<br />
&#8220;Jika Anda tidak menghendaki permata wanita ini,<br />
yang diinginkan oleh raja-raja,<br />
lalu pandangan, etika, latihan, kehidupan, masa depan apa<br />
yang Anda dalihkan?&#8221;<span id="more-18"></span></p>
<p>Buddha:<br />
&#8216;Saya berdalih begini&#8217;,<br />
Kedamaian batin tidak muncul pada diri seseorang yang melekat pada doktrin<br />
Saya melihat kedamaian batin<br />
pada diri seseorang yang tidak melekat pada pandangan,</p>
<p>Magandiya:<br />
&#8220;Sang Arif, Anda bicara tentang<br />
tanpa kemelekatan pada suatu penilaian yang sudah ada.<br />
Apakah artinya &#8216;Kedamaian batin&#8217; ini?<br />
Bagaimana seorang yang tercerahkan mejelaskan hal ini?&#8221;</p>
<p>Sang Buddha:<br />
&#8220;Ia tidak bicara tentang kemurnian seseorang dalam kaitan dengan<br />
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.<br />
Tidak juga melalui tidak adanya<br />
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.<br />
Melepaskan semuanya, tanpa melekat, damai, bebas,<br />
ia tidak mendambakan kelahiran kembali.&#8221;</p>
<p>Magandiya:<br />
&#8220;Jika ia tidak bicara tentang kemurnian seseorang dalam kaitan dengan<br />
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.<br />
Tidak juga melalui tidak adanya<br />
pandangan, pembelajaran, pengetahuan, etika atau latihan.</p>
<p>Maka bagi saya tampaknya ajaran ini membingungkan,<br />
oleh karena sementara orang beranggapan bahwa kemurnian<br />
dalam kaitan &#8211;melalui&#8211; suatu pandangan.&#8221;</p>
<p>Sang Buddha:<br />
Dengan Mengajukan pertanyaan dengan bergantung pada pandangan,<br />
Anda dibingungkan oleh apa yang Anda lekati.<br />
Oleh karena itu sedikit pun Anda tidak melihat apa yang saya katakan.<br />
maka Anda berpikir bahwa Itu membingungkan.</p>
<p>Barang siapa berpikir &#8217;sama&#8217;, &#8216;lebih tinggi&#8217;, atau &#8216;lebih rendah&#8217;,<br />
dengan itulah ia berdebat;<br />
Sedangkan bagi orang yang tak terpengaruh oleh tiga hal ini,<br />
&#8217;sama&#8217;, &#8216;lebih tinggi&#8217;, atau &#8216;leibh rendah&#8217;, tidaklah ada.</p>
<p>Dengan siapa seorang brahmana akan berdebat &#8216;benar&#8217; atau &#8217;salah&#8217;,<br />
Jika seseorang tidak lagi berpikir &#8217;sama&#8217; atau &#8216;tidak sama&#8217;</p>
<p>Setelah meninggalkan rumah, hidup bebas dari masyarakat,<br />
seorang pertapa tidak mencari kawan di desa-desa.<br />
Bebas dari nafsu indra, bebas dari pendambaan,<br />
ia tidak akan berdebat dengan orang memperebutkan kalah-menang.</p>
<p>Hal-hal duniawi tidak dilekatinya lagi<br />
ia mengembara di dunia:<br />
Sang Maha Agung tidak akan mengambil dan memperdebatkannya.</p>
<p>Seperti bunga teratai berduri tidak ternoda oleh air &amp; lumpur,<br />
begitulah seorang pertapa, pendukung kedamaian, tanpa keserakahan,<br />
tidak ternoda oleh nafsu indra dan dunia.</p>
<p>Sang pencapai kearifan tidak mengukur, bangga dengan<br />
dengan pandangan-pandangan atau apa yang dipikirkan,<br />
oleh karena ia tidak terbentuk dari itu.<br />
Ia tidak dituntun oleh perbuatan, pembelajaran;<br />
tidak menarik kesimpulan dalam kotak-kotak perdebatan.</p>
<p>Bagi dia yang tidak tertarik pada persepsi, tidak ada lagi ikatan;<br />
bagi dia yang bebas karena kebijaksanaan, tidak ada lagi ilusi.<br />
Mereka yang melekat pada persepsi dan pandangan,<br />
berjalan di dunia ini dengan selalu terantuk kepalanya.&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatiyangdamai.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatiyangdamai.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatiyangdamai.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatiyangdamai.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatiyangdamai.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatiyangdamai.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=18&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/magandiya-sutta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e4c3589746e052b7d1096b5cc1e9f20?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">Robby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kriteria Ajaran Buddha</title>
		<link>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/kriteria-ajaran-buddha/</link>
		<comments>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/kriteria-ajaran-buddha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 18:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robby Candra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buddhism]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[doktrin]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hatiyangdamai.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Banyak aliran yang menyatakan dirinya sebagai salah satu aliran Agama Buddha. Tetapi kalau kita teliti, ternyata perbedaan antara satu aliran dan aliran yang lain sangat besar. Bahkan, ada yang mengajarkan hal yang bertentangan dengan yang diajarkan aliran lain. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kriteria apa yang bisa kita jadikan pedoman untuk menentukan mana ajaran yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=14&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Banyak aliran yang menyatakan dirinya sebagai salah satu aliran Agama Buddha. Tetapi kalau kita teliti, ternyata perbedaan antara satu aliran dan aliran yang lain sangat besar. Bahkan, ada yang mengajarkan hal yang bertentangan dengan yang diajarkan aliran lain. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kriteria apa yang bisa kita jadikan pedoman untuk menentukan mana ajaran yang benar dan yang salah?<br />
<span id="more-14"></span>Pangeran Sidhartta dilahirkan pada abad ke 6 S.M. Sejak mencapai Penerangan Agung pada usia 35 tahun sampai wafat pada usia 80 tahun, Beliau mengisi hidupnya dengan memberi khotbah dan mengajar. Selama 45 tahun Buddha berbicara kepada semua lapisan masyarakat: raja dan putri, brahmin, petani, pengemis, kaum terpelajar dan rakyat biasa.</p>
<p>Ajaran yang diberikan disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pengertian, kemampuan pikiran dan kematangan batin para pendengarnya. Karena itu sangatlah wajar jika terjadi banyak perbedaan. Karena satu orang dengan yang lain mendengar ajaran yang berbeda. Pemahamannyapun berbeda. Meskipun, semua ajaran itu mengalir menuju tempat yang sama.</p>
<p>Buddha mendirikan persamuan para Bhikkhu dan Bhikkhuni, dan menetapkan peraturan disiplin yang disebut VINAYA untuk membimbing persamuan tersebut. Ajaran-ajaran Buddha sendiri disebut DHAMMA. Dharma berasal dari percakapan-percakapan dan khotbah-khotbah yang diberikan kepada para bhikkhu, bhikkhuni, dan masyarakat awam.</p>
<p>Tiga bulan setelah Buddha parinirvana, para murid dekatnya mengadakan pertemuan di Rajagaha. Y.A.Maha Kasyapa, bhikkhu tertua yang paling dihormati, memimpin pertemuan tersebut. Dua tokoh penting yang ahli dalam dua bidang yang berbeda : DHAMMA dan VINAYA juga hadir. Y.A.Ananda, teman dan pengikut terdekat Buddha selama 25 tahun, dengan bakat ingatan yang luar biasa, dapat mengucapkan kembali apa yang telah dikhotbahkan oleh Buddha. Seorang lagi adalah Y.A.Upali, yang mengingat semua peraturan Vinaya.</p>
<p>Sebelum Buddha mencapai parinirvana, Beliau memberitahu Y.A.Ananda bahwa jika SANGHA (persamuan bhikkhu) menghendaki, beberapa peraturan yang kurang penting dapat diubah. Tetapi pada waktu itu Y.A.Ananda diliputi oleh kesedihan yang sangat menekan karena Buddha hampir wafat, sehingga tidak terpikir untuk menanyakan kepada Sang Guru peraturan mana yang termasuk dalam peraturan yang kurang penting itu.</p>
<p>Karena tidak tercapai kesepakatan mengenai apa yang disebut sebagai peraturan yang kurang penting, akhirnya Y.A.Maha Kasyapa menetapkan bahwa tidak satupun dari peraturan disiplin yang dibuat oleh Buddha boleh diubah dan tidak ada peraturan baru yang boleh dibuat. Tiada alasan yang hakiki yang diberikan. Namun Y.A.Maha Kasyapa pernah mengatakan satu hal: &#8220;Jika kita merubah peraturan ini, orang akan berkata bahwa murid-murid Yang Ariya Gotama merubah peraturan bahkan sebelum api perabuan jenazahnya berhenti menyala.&#8221;</p>
<p>Memang, tiga bulan setelah Buddha parinirvana tidak dirasa perlu untuk merubah peraturan, sebab perubahan-perubahan politik, ekonomi atau sosial dalam masa yang singkat itu hampir tidak ada. Tetapi 100 tahun berikutnya, saat diadakan pertemuan yang kedua, beberapa bhikkhu merasa perlu untuk mengadakan perubahan atas peraturan yang kurang penting tersebut.</p>
<p>Para bhikkhu yang ortodoks mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang perlu diadakan, sedangkan yang lainya mendesak adanya perubahan beberapa peraturan. Akhirnya kelompok bhikkhu yang ingin mengadakan perubahan meninggalkan persamuan dan membentuk MAHASANGHIKA &#8211; Persamuan Agung -. Sekalipun disebut Mahasanghika, himpunan ini tidak dikenal sebagai Mahayana.</p>
<p>Pada pertemuan kedua ini hanya hal-hal yang berhubungan dengan Vinaya saja yang dibahas dan tidak dilaporkan adanya perdebatan mengenai Dhamma.</p>
<p>Pada abad ke-3 S.M. selama pemerintahan Raja Asoka, pertemuan ketiga dilangsungkan untuk membicarakan perbedaan-perbedaan pendapat diantara para bhikkhu dari berbagai sekte. Dalam pertemuan ini perbedaan-perbedaan itu tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga berkenaan dengan Dhamma. Ajaran buddha kemudian berkembang dan terbagi menjadi banyak sekte.</p>
<p>Dengan perjalanan waktu yang panjang, variasi antar satu sekte dengan sekte yang lain semakin luas. Sekte-sekte dalam Agama Buddha ibarat agama-agama kecil dalam satu agama besar. Dewasa ini banyak yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Orang bertanya-tanya, Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran Buddhisme? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat? Apakah ajaran ini merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha? Dan sebagainya.</p>
<p>Timbullah kebutuhan untuk membuat pokok-pokok pemersatu antara 2 aliran besar Theravada dan Mahayana. Perlu ada definisi, ajaran seperti apa yang bisa disebut sebagai ajaran Buddha yang benar. Definisi ini mempersatukan berbagai aliran Buddhis sekaligus menjaga kemurnian ajaran Buddha. Supaya orang tidak salah mengerti tentang apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Buddha. Biarpun, tentu saja, pedoman itu hanya mencakup garis besar ajaran saja.</p>
<p>Ada banyak versi pokok-pokok pemersatu yang pernah dilontarkan. Tetapi dari semuanya itu, bisa dirangkum bahwa semua aliran Agama Buddha mengajarkan:<br />
1. Menerima Sakyamuni Buddha sebagai Guru.<br />
2. Empat Kesunyataan Mulia.<br />
3. Jalan Mulia Beruas Delapan.<br />
4. Pratitya Samutpadda atau sebab musabab yang saling bergantungan.<br />
5. Menolak gagasan adanya Dewa tertinggi yang menciptakan dan menguasai dunia.<br />
6. Menerima Anitya, Dukkha dan Anatman dan Sila, Samadhi dan Prajna.<br />
Aliran Theravada mengajarkan ke-enam pokok ajaran tersebut. Aliran Mahayana menambahkan penekanan pada ajaran tentang bodhicitta. Aliran Tantrayana atau Tibetan mengajarkan ke-enam pokok ajaran tersebut ditambah bodhicitta dan meditasi tantra.</p>
<p>Rambu-rambu ini sangat berguna. Jika tidak ada rambu-rambu, dengan mudahnya orang tersesat saat mempelajari ajaran Buddha. Akan ada banyak orang yang menyatakan bahwa ia mengajarkan ajaran Buddha padahal yang ia ajarkan bertentangan dengan ajaran Buddha yang sesungguhnya. Bukan tidak mungkin seorang yang berjubah bhikkhu/bhiksu memberikan ajaran yang bertentangan dengan kitab suci karena ketidaktahuannya atau karena mempunyai tujuan yang tidak baik. Jika ini terjadi, masyarakat akan memandang rendah Agama Buddha.</p>
<p>Akan tetapi, saat Y.A. Anna Kondanna mendapatkan mata dharma, memahami sepenuhnya ajaran Buddha, beliau tidak mendengar banyak teori dan doktrin-doktrin yang dipelajari oleh banyak umat buddha. Bhante Anna Kondanna hanya mendengar inti ajaran yang menjadi fondasi seluruh ajaran Buddha yaitu tentang penderitaan atau dukkha. Dengan pemahaman tentang dukkha, bhante Anna Kondanna memahami seluruh pokok utama ajaran Buddha.</p>
<p>Ini membuktikan bahwa meskipun doktrin-doktrin atau pokok-pokok ajaran itu cukup penting, tetapi bukan doktrin yang bisa membawa seseorang pada pemahaman dharma yang sejati. Doktrin atau pokok-pokok ajaran hanyalah alat bantu. Penembusan dharma hanya bisa dicapai dengan perkembangan batin. Kemampuan untuk membebaskan diri dari kemelekatan. Kemampuan untuk melenyapkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Kemampuan untuk melepas.</p>
<p>Sebelum parinibbana, Buddha pernah berkata: &#8220;Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: `Berakhirlah kata-kata Sang Guru; kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.` Tetapi, Ananda, hendaknya tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku pergi.&#8221; (Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)</p>
<p>Dengan demikian setelah Buddha parinibbana, tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.</p>
<p>Jauh sebelum Parinibbana, Buddha juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Tetapi Buddha mempunyai penekanan yang berbeda ketika memberikan pedoman untuk membedakan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.</p>
<p>Dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53), Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:</p>
<p>Bila, Gotami, engkau mengetahui hal-hal secara pasti hal-hal ini:<br />
1. Menuju pada nafsu, bukan pada tanpa-nafsu.<br />
2. Menuju pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan.<br />
3. Menuju pada pengumpulan, bukan pada pelepasan.<br />
4. Menuju pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan.<br />
5. Menuju pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan.<br />
6. Menuju pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian.<br />
7. Menuju pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat.<br />
8. Menuju pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan`<br />
- tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti:<br />
`Ini bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.`</p>
<p>Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pasti hal-hal ini:<br />
1. Menuju pada tanpa-nafsu, bukan pada nafsu.<br />
2. Menuju pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan.<br />
3. Menuju pada pelepasan, bukan pada pengumpulan.<br />
4. Menuju pada memiliki sedikit keinginan, bukan pada memiliki banyak keinginan.<br />
5. Menuju pada kepuasan, bukan pada ketidakpuasan.<br />
6. Menuju pada kesendirian, bukan pada suka berkumpul.<br />
7. Menuju pada kebangkitan semangat, bukan pada kelambanan.<br />
8. Menuju pada kesederhanaan, bukan pada kehidupan mewah<br />
- tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti:<br />
`Ini adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.`</p>
<p>Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80), Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :</p>
<p>Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` &#8211; dari ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: Ini bukan Dhamma; ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.`</p>
<p>Tetapi Upali, jika engkau mengetahui tentang hal-hal tertentu: `Hal-hal ini membawa menuju perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana` &#8211; dari hal-hal semacam itu engkau bisa merasa yakin: Inilah Dhamma; inilah Vinaya; inilah Ajaran Sang Guru.`</p>
<p>Dari petunjuk Buddha berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Gotami Sutta maupun SatthuSasana Sutta kita bisa menganalisa, meneliti berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang menyimpang dari ajaran Buddha, mana yang tidak. Semoga kebingungan kita akan pembedaan antara mana yang merupakan ajaran Sang Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita ketahui dan pahami.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hatiyangdamai.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hatiyangdamai.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hatiyangdamai.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hatiyangdamai.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hatiyangdamai.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hatiyangdamai.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hatiyangdamai.wordpress.com&blog=4709065&post=14&subd=hatiyangdamai&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hatiyangdamai.wordpress.com/2008/09/05/kriteria-ajaran-buddha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3e4c3589746e052b7d1096b5cc1e9f20?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">Robby</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>